RADAR PATI - Setelah puluhan tahun berkiprah di kompetisi sepak bola nasional sebagai pelatih klub profesional, Eduard Tjong kini memilih fokus membina talenta muda di Safin Pati Sports School (SPSS), Desa Mojoagung.
Achmad Ulil Albab, Pati
Angin semilir menyapu komplek training ground Gelora Sukarno Mojoagung Trangkil. Peluit sesekali berbunyi diantara riuh anak-anak yang sedang menggocek bola.
Dari kejauhan nampak sosok lelaki dengan badan tegap sedang memberikan intruksi.
Baca Juga: Benahi Manajemen, Persipa Pati Mulai Bentuk Tim Agustus, Begini Target Ambisiusnya
Pria itulah Eduard Tjong. Sosok berpengalaman sebagai pemain dan pelatih.
Eduard Tjong pelatih berlisensi AFC Pro itu optimistis pembinaan usia dini menjadi kunci lahirnya pesepak bola profesional Indonesia di masa depan.
Eduard Tjong, yang akrab disapa Edu, merupakan mantan pemain klub Arseto pada era Galatama.
Di usia 63 tahun, ia kini dipercaya sebagai Koordinator Pelatih Safin Pati Sports School dan bertanggung jawab mengawal pembinaan pemain muda.
Sudah lima tahunan ini dia mengabdi di sana.
Pengalamannya di dunia kepelatihan terbilang panjang.
Sejak tahun 2000, Edu telah menangani sejumlah klub besar di Indonesia, dimulai dari Persis Solo, kemudian Persikabo Bogor pada 2001.
Kariernya berlanjut dengan melatih berbagai tim, di antaranya Pra PON Bali, Persiba Bantul, Persija Jakarta, Persela Lamongan, Madura FC, hingga beberapa klub lainnya.
Tak hanya di level klub, Eduard juga pernah menjadi bagian dari jajaran pelatih Tim Nasional Indonesia U-19.
Di Kabupaten Pati sendiri, namanya bukan sosok asing karena pernah melatih Persipa Pati pada 2013 serta menjadi caretaker Persipa Pati pada musim 2025/2026 di ajang Liga Nusantara.
Meski memiliki rekam jejak di sepak bola profesional, Eduard memilih bergabung dengan akademi sepak bola untuk membangun fondasi pembinaan pemain muda.
Menurutnya, Safin Pati Sports School memiliki fasilitas dan sistem yang mendukung lahirnya pemain profesional, termasuk keberadaan agensi pemain yang membuka peluang bagi lulusan akademi untuk meniti karier di level yang lebih tinggi.
Ia mengaku senang melihat tingginya minat anak-anak yang ingin mengembangkan kemampuan sepak bola di Safin Pati Sports School.
Hal itu terlihat saat proses seleksi beasiswa calon peserta didik baru tahun ajaran 2026 yang digelar pada Juni lalu.
Seleksi tersebut bertujuan menjaring pemain muda yang memiliki bakat serta potensi untuk dikembangkan menjadi pesepak bola profesional.
"Kami mencari anak-anak yang benar-benar memiliki potensi untuk dibentuk menjadi pemain karena kami saat ini juga punya agensi. Sekarang sepak bola tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga membutuhkan kecerdasan dalam bermain," kata Eduard.
Ia menjelaskan, proses seleksi dilakukan berdasarkan kriteria yang telah disusun direktur teknik.
Penilaian meliputi bakat, potensi, pemahaman terhadap sepak bola, kemampuan teknik, hingga keterampilan individu.
"Dari seleksi pertama sudah ada tujuh anak yang masuk kategori level B. Mereka masih memiliki waktu untuk dibina dan dikembangkan," ujarnya.
Eduard optimistis Indonesia, memiliki banyak pemain muda berbakat yang dapat berkembang menjadi pesepak bola profesional apabila mendapatkan pembinaan yang tepat, berkelanjutan, dan didukung sistem pengembangan yang baik sejak usia dini.
Tahun ini menjadi tahun pertama SPSS menggelar seleksi terbuka beasiswa pemain muda potensial dari seluruh Indonesia. (*)
Editor : Abdul Rochim