Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Ancang-ancang Gaet Pesawat ATR dan Boeing, Bandara Dewadaru Karimunjawa Jepara Perlu Pelebaran Landasan

Abdul Rochim • Minggu, 28 Juni 2026 | 20:09 WIB
Kondisi fasad depan Bandara Dewadaru Karimunjawa yang masih membutuhkan peningkatan fasilitas. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)
Kondisi fasad depan Bandara Dewadaru Karimunjawa yang masih membutuhkan peningkatan fasilitas. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)

KARIMUNJAWA — Upaya menjadikan Karimunjawa sebagai destinasi wisata kelas nasional hingga internasional tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. 

Ketersediaan akses transportasi yang memadai juga menjadi faktor penting untuk mendukung peningkatan kunjungan wisatawan. 

Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah pengembangan Bandara Dewadaru Karimunjawa agar mampu melayani pesawat berkapasitas lebih besar.

Hingga saat ini, Bandara Dewadaru masih memerlukan sejumlah pembenahan infrastruktur.

Baca Juga: Barikan Kubro Karimunjawa Jepara Sedot Wisatawan, Turis Mancanegara Antusias Berkebaya

Selain peningkatan fasilitas penunjang, pekerjaan utama yang harus dilakukan adalah memperpanjang sekaligus melebarkan landasan pacu. 

Langkah tersebut menjadi syarat apabila bandara ingin melayani pesawat jenis ATR hingga Boeing yang memiliki kapasitas penumpang jauh lebih besar dibandingkan pesawat yang saat ini beroperasi.

Humas Bandara Dewadaru Karimunjawa, Widady, mengatakan penerbangan komersial menuju Karimunjawa saat ini masih dilayani maskapai Susi Air menggunakan pesawat jenis Cessna.

Pesawat tersebut dinilai sesuai dengan kondisi landasan yang tersedia saat ini.

Menurutnya, wacana menghadirkan pesawat berbadan lebih besar sebenarnya sudah cukup lama dibahas.

Namun, realisasinya masih menunggu kesiapan infrastruktur bandara maupun dukungan dari pemerintah.

"Kalau ingin pesawat yang lebih besar masuk ke Karimunjawa, landasannya perlu diperpanjang dan lahannya juga harus diperlebar. Untuk pelebaran lahan itu menjadi kewenangan pemerintah daerah, baik Kabupaten maupun Provinsi," ujarnya.

Ia menjelaskan, ketertarikan operator penerbangan untuk membuka rute menuju Karimunjawa sebenarnya cukup tinggi.

Tidak hanya operator pesawat kecil, tetapi juga maskapai yang mengoperasikan pesawat berkapasitas menengah.

Sayangnya, kondisi pasar penerbangan menuju Karimunjawa dinilai belum sepenuhnya pulih.

Jumlah penumpang reguler masih belum stabil sehingga maskapai masih mempertimbangkan aspek bisnis sebelum membuka rute baru.

Meski demikian, aktivitas penerbangan di Bandara Dewadaru tetap berjalan melalui layanan penerbangan sewa atau charter yang hampir tersedia setiap pekan.

Menurut Widady, justru wisatawan mancanegara menjadi pelanggan terbesar layanan tersebut.

"Peminat charter lebih banyak wisatawan asing. Kalau wisatawan domestik masih belum terlalu banyak," katanya.

Ia menilai, rendahnya minat masyarakat menggunakan jalur udara menuju Karimunjawa bukan semata karena tarif, melainkan juga minimnya informasi mengenai ketersediaan layanan penerbangan tersebut.

Banyak calon wisatawan yang belum mengetahui bahwa penerbangan charter dapat menjadi alternatif perjalanan yang lebih cepat dibandingkan jalur laut.

Penerbangan charter menawarkan perjalanan yang lebih fleksibel karena bersifat privat tanpa harus menunggu jadwal keberangkatan reguler.

Tarif penerbangan dari Semarang menuju Karimunjawa dipatok sekitar Rp4,5 juta per penerbangan.

Harga serupa juga berlaku untuk rute dari Bandara Ngloram, Blora.

Dalam satu kali penerbangan, pesawat mampu mengangkut seorang pilot dan tiga penumpang dengan waktu tempuh sekitar 50 menit.

Selama perjalanan, penumpang juga dapat menikmati panorama udara sejumlah destinasi wisata unggulan Karimunjawa seperti Pantai Menjangan Besar, Tanjung Gelam, Bobby Beach, Nirwana Resort hingga Pantai Alang.

Sebagai bagian dari pengembangan kawasan, pihak Bandara Dewadaru bersama sejumlah pemangku kepentingan telah menyusun rancangan pengembangan bandara yang diajukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Usulan tersebut kini masih menunggu tindak lanjut.

Terpisah, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan bahwa Bandara Dewadaru berpeluang memperoleh dukungan peningkatan fasilitas dari pemerintah pusat.

Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan bandara sehingga mampu didarati pesawat ATR bahkan Boeing.

"Kami masih menunggu bantuan dari kementerian. Jika nantinya terealisasi, pesawat ATR maupun Boeing dapat memiliki rute penerbangan menuju Karimunjawa," katanya.

Menurutnya, peningkatan kapasitas Bandara Dewadaru akan memberikan dampak strategis bagi pengembangan sektor pariwisata Karimunjawa.

Selama ini akses menuju kepulauan masih didominasi jalur laut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. 

Kehadiran pesawat berkapasitas lebih besar diyakini akan memperluas pilihan transportasi bagi wisatawan sekaligus meningkatkan konektivitas wilayah.

Selain mendorong pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan, pengembangan bandara juga diharapkan mampu memberikan efek berganda terhadap perekonomian masyarakat Karimunjawa.

Mulai dari sektor perhotelan, kuliner, jasa wisata, transportasi lokal hingga pelaku UMKM yang selama ini menggantungkan pendapatan dari aktivitas pariwisata. 

Dengan akses udara yang semakin baik, Karimunjawa diharapkan mampu bersaing sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Indonesia.  (fik) 



Editor : Abdul Rochim
#Bandara Dewadaru Karimunjawa #landasan Bandara Dewadaru #ATR Karimunjawa #Boeing Karimunjawa #pengembangan Bandara Dewadaru