
SEJARAH: Pemandu kegiatan menjelaskan kepada peserta sejarah pecinan di Kudus Timur, Minggu (28/6). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)
" width="100%">
KUDUS – Kawasan Pecinan Wetan di Kabupaten Kudus kembali menjadi ruang belajar sejarah melalui kegiatan walking tour yang digelar Minggu (28/6).
Sebanyak 31 peserta diajak menyusuri jejak permukiman masyarakat Tionghoa di Kudus Timur sambil mengenal sejarah perdagangan, industri, hingga tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan Kota Kudus.
Pemandu kegiatan, Rohmat Hidayatullah atau Dayat, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan peluncuran rute baru yang mengangkat narasi sejarah Pecinan Wetan.
Peserta diajak mengunjungi berbagai titik bersejarah yang menjadi saksi berkembangnya aktivitas ekonomi masyarakat Tionghoa pada masa lampau.
"Rute baru ini memperkenalkan kawasan Pecinan Wetan, termasuk tokoh-tokoh Tionghoa yang berperan dalam dunia perdagangan. Ada juga sejarah perusahaan besar seperti Djarum dan Nojorono serta perkembangan aktivitas niaga masyarakat Tionghoa di Kudus," ujarnya.
Rute dimulai dari Tugu Identitas Kudus, kemudian menuju kawasan Nojorono di Perempatan Bitingan dengan cerita mengenai NV Moeria dan NV Trio.
Perjalanan dilanjutkan ke Jenang Muntjul, Brak Djarum Bitingan Lama, serta PR Sidodadi yang berkaitan dengan tokoh Djohar Manik.
Peserta juga diajak menikmati kuliner khas seperti bolang-baling dan cakue sebelum melanjutkan perjalanan ke Griya Rahardja, Ruko Hans, RS Miriam, bekas Melkerij Ong In Biauw yang kini menjadi Polytron, pabrik Kecap Njah Biek, Djarum Pusat, hingga berakhir di Klenteng Hok Hien Bio.
Dayat mengatakan, kegiatan walking tour rutin digelar setiap dua pekan sekali dengan total 12 rute reguler.




