JAKARTA – Ada fakta menarik menjelang final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina.
Dua finalis tersebut sama-sama gagal mengalahkan satu tim Afrika yang sama dalam waktu normal, yakni Tanjung Verde.
Debutan Piala Dunia itu tampil mengejutkan sepanjang turnamen dan berhasil menyulitkan dua raksasa sepak bola dunia yang kini akan memperebutkan gelar juara.
Tanjung Verde mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi juara Eropa, Spanyol, pada laga pembuka Grup H.
Meski diprediksi kalah telak, wakil Afrika tersebut justru mampu menahan imbang La Roja dengan skor 0-0.
Penampilan gemilang kiper Vozinha menjadi kunci keberhasilan Tanjung Verde meraih satu poin.
Mantan rekan setim Witan Sulaeman di klub Slovakia AS Trencin itu melakukan tujuh penyelamatan penting untuk menggagalkan peluang-peluang Spanyol.
Hasil tersebut menjadi salah satu kejutan terbesar pada fase grup sekaligus membuktikan bahwa Tanjung Verde mampu bersaing dengan tim-tim elite dunia.
Perjalanan sensasional mereka berlanjut hingga babak 32 besar. Berhadapan dengan juara bertahan Argentina, Tanjung Verde kembali memberikan perlawanan sengit.
Argentina hanya mampu bermain imbang 1-1 sepanjang 90 menit. Pada babak perpanjangan waktu, Enzo Fernandez dan kolega sempat kembali unggul, namun Tanjung Verde berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
La Albiceleste akhirnya memastikan kemenangan dramatis 3-2 setelah tercipta gol bunuh diri pemain belakang Tanjung Verde pada babak tambahan.
Meski gagal melangkah lebih jauh, penampilan Tanjung Verde menjadi salah satu kisah terbesar di Piala Dunia 2026.
Mereka menjadi satu-satunya tim yang mampu membuat kedua finalis, Spanyol dan Argentina, gagal meraih kemenangan dalam waktu normal selama turnamen berlangsung.
Catatan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi negara Afrika tersebut.
Sebagai debutan di Piala Dunia, Tanjung Verde sukses mencuri perhatian dunia lewat penampilan disiplin, semangat juang tinggi, dan kemampuan bersaing melawan tim-tim terbaik dunia. (*him)