REMBANG – Kawasan Ekonomi Esensial (KEE) Mangrove Pasarbanggi di Kabupaten Rembang kembali mendapat perhatian sebagai kawasan konservasi.
Destinasi wisata berbasis ekosistem mangrove itu menjadi salah satu lokasi verifikasi lapangan dalam penilaian kader konservasi alam tingkat nasional.
Beberapa waktu lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang mendampingi tim penilai yang terdiri atas unsur Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, serta Cabang Dinas Kehutanan.
Baca Juga: Bentuk Tim Transisi Sekolah Rakyat di Rembang, MPLS Diundur hingga Akhir Juli
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Rembang, Taufik Darmawan, mengatakan Rembang mewakili Jawa Tengah dengan mengusung Achmad Rif'an sebagai calon kader konservasi alam tingkat nasional.
"Intinya Rembang sebagai wakil Jawa Tengah mengusung Achmad Rif'an untuk dicalonkan menjadi kader konservasi alam dalam kontestasi nasional," ujarnya.
Dalam proses penilaian, tim melakukan verifikasi di tiga lokasi konservasi.
Kunjungan diawali di Sendang Kaputren, Desa Suntri, Kecamatan Gunem, dilanjutkan ke Bukit Cendana yang menjadi lokasi konservasi cendana, kemudian ke kawasan Ngulahan, Kecamatan Sedan, yang mengembangkan konservasi burung.
Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah KEE Pasarbanggi, yang dikenal sebagai kawasan konservasi mangrove sekaligus destinasi wisata edukasi di Kabupaten Rembang.
Jembatan Kayu Mulai Lapuk
Taufik mengakui kondisi jembatan kayu di kawasan mangrove mengalami pelapukan akibat usia bangunan dan paparan cuaca. Namun, menurutnya, kondisi di lapangan tidak separah yang banyak beredar di media sosial.
Ia menjelaskan, sejak kawasan tersebut dikembangkan pada 2014–2015, berbagai pihak telah berkontribusi dalam pembangunan dan penataan fasilitas, mulai dari DLH, sektor pariwisata, kehutanan hingga dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Pengembangan selama ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Artinya, secara fasilitas wisata kawasan ini memiliki nilai yang sangat tinggi," katanya.
Menurutnya, yang diperlukan saat ini adalah penyampaian informasi yang lebih berimbang kepada masyarakat agar tidak hanya melihat kondisi sebagian fasilitas yang mulai mengalami kerusakan.
Perawatan jembatan kayu juga menjadi tantangan karena material terus terpapar panas, hujan, dan kelembapan tinggi sehingga mudah lapuk.
Sementara itu, biaya pemeliharaan selama ini masih mengandalkan sumbangan sukarela dari para pengunjung.
"Tidak ada tarif masuk. Pengunjung hanya memberikan sumbangan secara sukarela, sehingga pengelola memang menghadapi tantangan dalam melakukan perawatan," ujarnya.
Potensi Edukasi dan Ekowisata
Meski minat wisatawan terhadap wisata pantai berpasir dinilai lebih tinggi, Taufik menegaskan KEE Pasarbanggi memiliki nilai konservasi yang tidak dimiliki destinasi lain.
Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai flora dan fauna mangrove serta memiliki potensi besar sebagai lokasi edukasi lingkungan.
Karena itu, berbagai kegiatan edukatif mulai digencarkan, salah satunya program penanaman mangrove yang melibatkan pelajar dan masyarakat.
"Beberapa waktu lalu kami melaksanakan kegiatan penanaman mangrove bersama anak-anak. Kegiatan seperti ini akan terus dikembangkan agar fungsi edukasi kawasan semakin kuat," jelasnya.
Ia menambahkan, luas kawasan mangrove di KEE Pasarbanggi terus bertambah setiap tahun.
Kawasan yang semula tercatat sekitar 38 hektare kini diperkirakan telah berkembang mendekati 55 hektare apabila dihitung bersama kawasan mangrove yang terhubung hingga Tireman.
Menurutnya, potensi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan wisata berbasis konservasi sekaligus memperkuat fungsi ekologis kawasan pesisir Rembang.(noe)