Nasional Pati Jateng Kudus Grobogan Rembang Blora Sepakbola Olahraga Feature Khazanah Life Style Entertainment Wisata Kuliner Muria Raya Tekno

Harga BBM Khusus 15 Ribu jadi Angin Segar Nelayan Juwana, Ratusan Kapal Siap Melaut Kembali

Admin • Kamis, 16 Juli 2026 | 16:52 WIB
Beberapa nelayan di galangan kapal Berkah Mina Group yang terletak di Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana sedang membenahi alat tangkap untuk persiapan melaut pada bulan Agustus mendatang. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)
Beberapa nelayan di galangan kapal Berkah Mina Group yang terletak di Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana sedang membenahi alat tangkap untuk persiapan melaut pada bulan Agustus mendatang. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

PATI – Penetapan harga BBM khusus nelayan menjadi angin segar bagi pelaku usaha sektor perikanan tangkap.

Hal ini diungkapkan Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono. Pihanya juga menyampaikan apresiasi yang mendalam atas respons cepat dari pemerintah pusat, terkait gejolak BBM untuk para nelayan.

Kebijakan yang diputuskan oleh Presiden Prabowo Subianto ini menjadi angin segar setelah para nelayan sempat menggelar aksi unjuk rasa pada 4 Mei 2026 lalu.

Ia mengatakan bahwa sebelumnya nelayan enggan melaut lantaran kalkulasi bisnis yang tidak memungkinkan akibat tingginya harga solar industri yang sempat menyentuh angka Rp30.000 per liter.

Baca Juga: Ribuan Nelayan Juwana Demo di Pati, Harga Solar Industri Rp 30 Ribu Bikin Kapal Tak Melaut

“Kalau dipaksakan melaut dengan harga BBM yang kemarin itu, tidak akan menutup biaya operasional kita selama melaut,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa setelah keputusan ini keluar, sekitar 350-an kapal jenis purse seine yang berada di bawah naungan paguyubannya kini mulai melakukan perbaikan fisik dan jaring untuk bersiap berangkat pada bulan Agustus mendatang menuju Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718 di Laut Aru, Papua.

Dampak positif dari penurunan harga BBM ini juga dirasakan langsung oleh para pengusaha kapal.

Juwari, seorang pemilik kapal asal Desa Bendar, Kecamatan Juwana, mengungkapkan bahwa selisih harga BBM non-subsidi dari skema sebelumnya sangat membebani biaya produksi, terlebih harga komponen operasional lainnya juga mengalami kenaikan di pasar.

“Harga sekarang yang baru ditetapkan ini membantu sekali, soalnya dulu dengan harga Rp 20 ribu per liter itu sudah berat. Apalagi harga kemarin sampai 30 ribu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Juwari menjelaskan bahwa dengan harga Rp15.000 per liter, biaya produksi kini sudah dalam taraf ideal dan mampu tertutupi oleh hasil penjualan ikan.

Langkah ini sekaligus menyelamatkan nasib para anak buah kapal (ABK). Juwari mempekerjakan sekitar 45 orang per kapal, yang diakuinya terpaksa menganggur total sejak masa libur Lebaran lalu demi menunggu kepastian regulasi BBM.

Hal senada juga diungkapkan oleh Arif, seorang nakhoda senior yang biasa menakhodai KM Mekar Jaya Barokah 6 berkapasitas 170 Gross Ton.

Baca Juga: MELONJAK Harga Solar Industri, Banyak Kapal Besar di Rembang Pilih Mogok Melaut

“Hampir seluruh kapal tangkap di wilayah sini sempat berhenti beroperasi sejak bulan puasa lalu akibat mahalnya bahan bakar, sehingga membuat para nelayan kehilangan mata pencaharian,” paparnya.

Ia merasa optimistis iklim usaha sektor perikanan tangkap akan kembali bergairah menjelang keberangkatan massal yang direncanakan pada Agustus nanti.

Arif menilai bahwa kestabilan harga BBM sebesar Rp15.000 per liter saat ini sudah cukup setimpal dengan harga jual komoditas ikan pindang, layang, hingga banyar yang akan mereka buru di perairan Maluku hingga menjelang Maret tahun depan. (aua)

Editor : Admin
BBM khusus nelayan solar industri perikanan tangkap juwana