PATI – Warga RT 05 RW 01 Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, harus hidup berdampingan dengan banjir rob yang kini menjadi rutinitas harian.
Saat air laut pasang, genangan perlahan memasuki jalan hingga permukiman warga, mengganggu aktivitas sekaligus melumpuhkan perekonomian masyarakat pesisir.
Sejak pagi hari, air laut mulai menggenangi kawasan permukiman dengan ketinggian mencapai mata kaki orang dewasa.
Baca Juga: Penanganan Rob Tunggulsari Pati Dipercepat, Tanggul Jebol Jadi Prioritas
Namun, kondisi terus memburuk menjelang siang.
Sekitar pukul 13.00, genangan meningkat hingga setinggi paha orang dewasa sebelum akhirnya perlahan surut menjelang sore.
"Kalau sore mulai surut lagi. Tapi siang air masuk ke rumah. Kalau yang dekat tambak, tingginya bisa sampai selutut," ujar Jumiah (50), warga RT 05 RW 01.
Menurutnya, rob besar bukan lagi peristiwa musiman.
Selama dua tahun terakhir, banjir pasang telah menjadi bagian dari kehidupan warga.
Bahkan dalam satu bulan terakhir intensitas genangan semakin parah sehingga menghambat aktivitas sehari-hari.
Dampak paling terasa dirasakan para pelaku usaha kecil.
Jumiah mengaku terpaksa menghentikan usaha berjualan makanan ringan dan minuman yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarganya.
Seluruh peralatan usaha dan barang dagangan kini disimpan di dalam rumah agar tidak rusak akibat terendam air laut.
"Sudah sekitar satu bulan saya tidak bisa berjualan karena rob. Barang-barang kami amankan supaya tidak rusak," katanya.
Jumiah menjelaskan, pasang surut air laut sebenarnya sudah lama terjadi di wilayah pesisir Tunggulsari.
Namun rob yang merendam permukiman secara luas baru dirasakan dalam dua tahun terakhir.
Ia menduga kondisi tersebut diperparah oleh tanggul sungai yang tidak mampu menahan debit air saat pasang.
Menurutnya, meski sungai sempat diperlebar, kapasitas tanggul dinilai masih kurang sehingga air mudah meluap.
"Sungainya memang sudah dilebarkan, tapi tanggulnya kurang tinggi sehingga air tidak tertampung dan akhirnya jebol," ungkapnya.
Selain banjir rob, warga juga menghadapi persoalan lain berupa minimnya penerangan jalan.
Jalur perimeter pantai yang menjadi akses utama masyarakat kini gelap setelah sekitar 20 lampu penerangan jalan umum (PJU) dilaporkan padam.
Kondisi tersebut membuat warga merasa khawatir saat harus melintas pada malam hari, terlebih ketika genangan air masih menutupi sebagian jalan.
Warga berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul yang jebol, meningkatkan kapasitas tanggul penahan rob, serta memulihkan lampu penerangan jalan.
Bagi masyarakat pesisir Tunggulsari, infrastruktur tersebut menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas dan roda perekonomian dapat kembali berjalan normal. (adr/war)