Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Rp 75 Ribu Sudah Dapat Sepaket Cita Rasa Kuliner Kepulauan Karimunjawa Jepara

Fikri Thoharudin • Senin, 22 Juni 2026 | 14:18 WIB
MENGGIURKAN: Sayur daun kelor, kangkung, hingga daun singkong dengan paduan asam, belimbing dan belimbing khas Bakkololo. (BAMBANG ZAKARIA UNTUK RADAR PATI)
MENGGIURKAN: Sayur daun kelor, kangkung, hingga daun singkong dengan paduan asam, belimbing dan belimbing khas Bakkololo. (BAMBANG ZAKARIA UNTUK RADAR PATI)

MURAH meriah. Hidden gem. Meja kayu panjang di Bakkololo dapat dipenuhi piring-piring berisi hasil laut segar, tumis daun kelor, sambal beraroma jeruk, hingga lawi-lawi atau anggur laut yang kenyal dan asin segar. 

Tidak ada tamu yang memesan menu tertentu. Mereka hanya duduk, menunggu kejutan rasa yang dihadirkan alam hari itu.

Cukup merogoh kocek Rp 75 ribu per orang, pengunjung sudah mendapatkan satu paket pengalaman bersantap ala masyarakat kepulauan Karimunjawa. 

Baca Juga: MENCICIPI Legitnya Kuliner Kue Yopia Khas Lasem , Kriuk di Luar dan Manis di Dalam

Bukan sekadar makan, tetapi menikmati apa yang sedang tumbuh, dipanen, atau ditangkap nelayan pada setiap musim.

Di balik konsep itu ada Bambang Zakaria (58). Baginya, Bakkololo di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, bukan hanya tempat menjual makanan. 

Namun, ruang sederhana tersebut dirawat sebagai ruang hidup, tempat orang-orang bertemu, berbincang, dan mengenal budaya pesisir melalui sajian yang tersuguh di atas meja.

"Semua pangan lokal. Inilah ketahanan pangan yang sebenarnya,” ucapnya, pada Jumat (19/6).

Karena itulah, pengunjung tak akan menemukan buku menu ataupun daftar harga per hidangan. Sebab, menunya langsung dibincangkan. Tergantung selera. Bisa request.

Pertanyaan pertama yang diajukan kepada tamu justru sangat sederhana, apakah vegetarian atau tidak. Selebihnya, dapur akan menyesuaikan dengan bahan yang tersedia pada hari itu.

Saat musim ikan melimpah, hidangan laut menjadi sajian utama. Namun ketika tangkapan berkurang dikombinasikan hasil bumi lain. Meja makan, bisa dipenuhi sayuran lokal seperti kangkung, daun singkong, hingga daun kelor yang dipetik segar. 

Begitu pula sambal yang menjadi teman makan. Racikannya dibuat dari bahan-bahan yang sedang tersedia. 

Terkadang dengan belimbing, jeruk, atau asam untuk menghadirkan sensasi segar yang khas. 

Jika sedang musim, tamu juga berkesempatan mencicipi latoh atau lawi-lawi, pangan pesisir yang mulai jarang dijumpai di daerah lain.

Menurut Bambang, cara memasak semacam itu merupakan bentuk penghormatan terhadap ritme alam. 

Bakkololo tidak ingin memaksakan bahan tertentu harus selalu tersedia sepanjang tahun. Apa yang tumbuh dan dihasilkan alam sekitar itulah yang diangkat menjadi sajian.

Konsep tersebut justru menarik perhatian wisatawan mancanegara. Rombongan kecil dari Prancis, Swiss, Jerman, hingga Belanda beberapa kali datang melalui reservasi khusus. 

Mereka tidak hanya mencari makanan, tetapi pengalaman menikmati cita rasa kepulauan yang otentik. Khas. Enak.

Bagi Bambang, apa yang dilakukan Bakkololo juga menjadi upaya sederhana menjaga keberagaman pangan lokal. 

Alih-alih mengikuti standar konsumsi modern yang seragam, ia memilih menghidangkan apa yang tersedia di sekitar. Menjadikannya santapan yang jujur, segar, dan bercerita tentang kehidupan masyarakat pesisir Karimunjawa.

Menurut Bambang, alam telah menyediakan berbagai kemudahan dan kemurahan. Hal itulah yang ditirunya.

“Hanya Rp 75 ribu, pengunjung dapat mengenal masakan khas Karimunjawa,” pungkasnya.(fik)

Editor : Abdul Rochim
#kepulauan karimunjawa #ikan laut #tumis daun kelor #jepara #kuliner