GROBOGAN – Athaya Putra Agfani menjadi calon jamaah haji termuda asal Kabupaten Grobogan tahun ini. Usianya baru 17 tahun.
Masih duduk di bangku kelas XI SMKN 1 Purwodadi.
Usia yang tak mungkin untuk haji dengan jalur pendaftaran regular. Kecuali haji plus atau furoda.
Sebab, daftar tunggu haji mencapai puluhan tahun. Masa yang tak mungkin dicapai di usia Athaya.
Namun, perjalanan ini bukan hanya miliknya. Ia menjadi penerus sebuah niat yang pernah ditanamkan sang ayah, tapi terhenti oleh takdir.
Pada Januari 2013 lalu, keluarganya mendaftar haji. Saat itu, Athaya masih berusia empat tahun. Ia bahkan belum memahami apa itu haji.
Apalagi membayangkan suatu hari akan menggantikan posisi ayahnya.
Hingga pada 2019, takdir berkata lain. Sang ayah wafat, meninggalkan rencana yang belum sempat terwujud itu.
Namun, seperti benang yang tak pernah putus. Harapan itu, menemukan jalannya kembali.
Melalui kebijakan pelimpahan porsi, nama Athaya akhirnya masuk dalam daftar calon jamaah haji 2026.
Ia menggantikan posisi ayahnya. Bukan hanya secara administratif, tapi juga secara batin.
Di mana kebijakan Kementerian Haji (Kemenhaj), tahun ini usia berhaji minimal 13 tahun. Padahal tahun lalu, minimal 18 tahun.
Ibunya Athaya, Anita Fitriani Yusuf masih menyimpan rasa haru, setiap kali menceritakan proses itu.
”Saat ini, Athaya berusia 17 tahun. Ini seperti jawaban dari doa yang panjang. Anak saya bisa melanjutkan apa yang dulu diinginkan ayahnya dan menjadi haji termuda Grobogan,” tuturnya pelan.
Kini, hari keberangkatan semakin dekat. Pada 1 Mei, Athaya akan berangkat bersama ibunya dan empat anggota keluarga lain tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 32 menuju embarkasi Solo.
Sebuah titik awal dari perjalanan suci yang selama ini hanya ia bayangkan lewat cerita dan buku.
Baca Juga: SOSOK Reisya Aulia Izzatunnissa, Taekwondoin Muda Grobogan yang Terus Berprestasi
Tiga bulan terakhir menjadi fase persiapan yang intens. Setiap pekan, ia mengikuti manasik di KBIHU Pelita.
Dari cara mengenakan ihram, memahami rute ibadah, hingga melafalkan doa-doa. Semuanya ia pelajari dengan sungguh-sungguh.
”Jelang pemberangkatan ini, niat kami berhaji adalah beribadah dan meningkatkan keimanan kami kepada Allah. Juga persiapan fisik dan mental,” terangnya.
Sesekali, rasa gugup datang. Wajar, ini akan menjadi perjalanan pertamanya ke luar negeri.
Lebih dari itu, ia akan menjalani ibadah yang penuh makna, yang tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga kesiapan hati.
”Saya sempat merasa takut, apakah bisa menjalankan semuanya dengan benar. Tapi saya terus belajar,” ujarnya.
Di sekolah, kisah Athaya menjadi perbincangan hangat. Teman-temannya memberi semangat.
Guru-guru juga memberikan izin dan dukungan. Tidak semua siswa mendapat kesempatan seperti ini, pergi haji di usia yang masih belia.
Namun Athaya menjalaninya tanpa berlebihan. Ia tetap seperti remaja pada umumnya. Hanya, di sela aktivitasnya, ada ruang khusus yang ia isi dengan doa dan persiapan batin.
Perjalanan ini, baginya bukan sekadar perjalanan ibadah. Ini bentuk bakti. Cara sunyi untuk meneruskan langkah yang pernah dirintis ayahnya.
Saat nanti ia siap melangkah ke Tanah Suci, mengenakan ihram, dan melafalkan talbiyah.
Mungkin ada kenangan yang ikut berjalan bersamanya. Tentang sosok ayah yang dulu mendaftar haji dengan harapan sederhana: bisa berangkat bersama keluarga.
Kini, harapan itu menemukan wujudnya, meski dengan cara yang berbeda. Athaya tidak banyak meminta. Harapannya sederhana, seperti doa-doa yang ia hafalkan setiap hari.
”Semoga diberi kelancaran, keselamatan, dan bisa menjadi haji yang mabrur,” katanya.
Pada usia yang masih muda, ia telah memulai perjalanan besar.
Bukan hanya menempuh jarak ribuan kilometer, tetapi juga menapaki jejak yang diwariskan dari sebuah niat, sebuah doa, dan sebuah cinta dalam keluarga. (mun/lin)
Editor : Abdul Rochim