Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

MANTAB! Grobogan Bersaing dengan Italia dan Filipina di Proyek Hibah Smart City Korea

Intan Maylani Sabrina • Jumat, 6 Februari 2026 | 13:20 WIB
MOU: CEO PT Beomho Teknologi Service asal Korea saat MoU dengan Bupati Grobogan Setyo Hadi.
MOU: CEO PT Beomho Teknologi Service asal Korea saat MoU dengan Bupati Grobogan Setyo Hadi.

GROBOGAN – Kabupaten Grobogan mencatat langkah besar di level internasional dengan masuk dalam penjajakan proyek hibah pengembangan Smart Traffic Safety dan Smart Public Safety bersama Korea Selatan.

Dalam program global tersebut, Grobogan menjadi satu-satunya wakil Indonesia dan harus bersaing langsung dengan kandidat daerah dari Italia dan Filipina.

Kerja sama ini berada dalam dua skema hibah utama Pemerintah Korea Selatan, yakni melalui MOLIT (Ministry of Land, Infrastructure & Transport) dalam program K-City Network Global Cooperation Competition untuk pengelolaan smart traffic safety.

Serta melalui NIPA (National IT Industry Promotion Agency) untuk pengembangan smart public safety, khususnya layanan Smart PSC 119 Service.

Kepala Bappeda Grobogan, Afi Wildani, mengatakan bahwa kehadiran PT Beomho Teknologi Service ke Grobogan merupakan tindak lanjut dari MoU sebelumnya dalam skema hibah MOLIT.

“PT Beomho adalah pihak swasta yang mendapatkan project hibah tersebut. Grobogan kemudian dijajaki sebagai lokasi pelaksanaan di Indonesia,” ujar Afi.

Penjajakan itu diperkuat dengan penandatanganan MoU antara PT Beomho Teknologi Service dan Bupati Grobogan Setyo Hadi, sebagai bentuk komitmen resmi kerja sama lintas negara dalam pengembangan sistem transportasi dan keselamatan publik berbasis teknologi cerdas.

Afi menjelaskan, Grobogan dipilih karena memiliki posisi geografis strategis sebagai jalur utama alternatif nasional penghubung Semarang–Surabaya dan Semarang–Solo, sekaligus menjadi bagian dari kawasan aglomerasi Kedungsepur.

“Secara geografis Grobogan berada di jalur mobilitas utama regional, sehingga memiliki tingkat pergerakan lalu lintas yang tinggi,” jelasnya.
Selain itu, faktor keselamatan jalan juga menjadi pertimbangan kuat.

Berdasarkan data Jasa Raharja 2024–2025, angka kecelakaan lalu lintas di Grobogan tergolong tinggi, dengan keberadaan 10 titik rawan kecelakaan (blackspot) yang tersebar di berbagai wilayah.

“Data kecelakaan dan keberadaan blackspot ini menjadi dasar penting kenapa program ini relevan diterapkan di Grobogan,” kata Afi.

Sebagai tindak lanjut, kerja sama ini memasuki tahapan kroscek lapangan untuk memetakan kebutuhan riil. Dari penjajakan awal, teknologi yang ditawarkan meliputi sistem CCTV terintegrasi, penerangan jalan umum berbasis AI, serta lampu lalu lintas berbasis AI.

Namun seluruh implementasi akan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan aktual wilayah.

“Semua tergantung hasil kroscek. Tidak semua wilayah harus sama, karena kebutuhannya berbeda-beda,” tegasnya.

Dalam seleksi global program hibah tersebut, Grobogan bersaing dengan daerah dari Italia dan Filipina. Jika Indonesia terpilih, Korea Selatan membuka peluang hibah lanjutan di sektor-sektor strategis lainnya.

“Hasil seleksi akan diumumkan pada April, dan ke depan juga akan ada meeting kolaborasi dengan Pemerintah Korea,” ungkap Afi.

Melalui kerja sama ini, Pemkab Grobogan tidak hanya membangun infrastruktur berbasis teknologi, tetapi menyiapkan transformasi jangka panjang sistem transportasi dan keselamatan publik yang lebih cerdas, terintegrasi, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan masyarakat. (int)

Editor : Abdul Rochim
#psc 119 #grobogan #Hibah #korea selatan