GROBOGAN – Puluhan siswa ELCI School Purwodadi sukses memukau penonton melalui pementasan drama berbahasa Inggris bertajuk Magada Kingdom Has Fallen dalam rangka ELCI School 6th Inauguration Program 2026.
Acara yang digelar di Twenty Three Coffee, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Senin (13/7) malam, mendapat sambutan meriah dari orang tua, tamu undangan, dan masyarakat.
Drama tersebut mengangkat kisah pewayangan Nusantara tentang Sumantri dan Sukrasana yang dikemas dalam bahasa Inggris.
Baca Juga: MBG di Grobogan Mulai Jalan Lagi, Tapi Tiga SPPG Masih Tutup
Selain menjadi ajang mengasah kemampuan berbahasa asing, pementasan juga bertujuan mengenalkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada generasi muda.
Para siswa tampil percaya diri memerankan tokoh-tokoh dari Kerajaan Magada, Maespati, hingga Widarba.
Didukung kostum bergaya kerajaan dan penghayatan karakter yang kuat, mereka mampu menghidupkan alur cerita sepanjang pertunjukan.
Cerita berfokus pada dua bersaudara, Sumantri dan Sukrasana. Sumantri digambarkan sebagai sosok tampan, cerdas, dan ambisius yang bercita-cita mengabdi kepada Raja Maespati, Prabu Arjuna Sasrabahu.
Sebaliknya, Sukrasana memiliki rupa yang berbeda, namun dikenal berhati tulus dan selalu menyayangi kakaknya.
Ambisi Sumantri membawanya meraih jabatan Patih Suwanda di Kerajaan Maespati.
Namun, perjalanan itu juga memunculkan konflik batin ketika ia mendapat tugas membawa Dewi Citrawati, putri Kerajaan Magada, untuk dipersunting sang raja.
Di tengah tugas tersebut, Sumantri justru jatuh hati kepada Dewi Citrawati sehingga dihadapkan pada pilihan antara kesetiaan kepada raja atau mengikuti perasaannya.
Sementara itu, Sukrasana terus mencari kakaknya yang telah lama meninggalkannya.
Kisah keduanya menghadirkan pesan tentang persaudaraan, pengorbanan, kesetiaan, dan konsekuensi dari setiap pilihan hidup.
Tokoh Sumantri diperankan oleh Sonata, sedangkan Sukrasana dimainkan Attaya.
Peran Dewi Citrawati dibawakan Indah, Zaid memerankan Prabu Citradarma, Albert sebagai Prabu Citragada, dan Fatir sebagai Prabu Darmawasesa.
Siswa lainnya turut berperan sebagai prajurit, anak-anak, selir, hingga paduan suara yang mengiringi jalannya pertunjukan.
Pemimpin ELCI School Purwodadi, Agung Budi Santoso, mengatakan pementasan tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Inggris dapat dipadukan dengan penguatan karakter dan pelestarian budaya.
"Melalui panggung seni seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar berkomunikasi dalam bahasa Inggris, tetapi juga memahami nilai ketulusan, pengorbanan, tanggung jawab, dan persaudaraan yang diwariskan dalam kisah klasik Nusantara," ujarnya.
Menurut Agung, penguasaan bahasa Inggris menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan identitas budaya bangsa.
Apresiasi juga disampaikan salah satu orang tua siswa, Pradipta Tsani.
Ia mengaku bangga melihat putranya mampu tampil percaya diri setelah menjalani latihan yang panjang.
"Luar biasa. Anak saya belajar tentang tanggung jawab dan bagaimana menjiwai perannya. Terima kasih kepada ELCI School yang telah memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang," katanya.
Sementara itu, dokter sekaligus pendiri Nabila Skincare, dr. Heni, mengaku terkesan dengan kemampuan para siswa menghafalkan dialog panjang dalam bahasa Inggris.
"Saya mengikuti dari awal sampai akhir. Anak-anak semuanya hebat. Ini bukan hanya tentang bahasa Inggris, tetapi juga membangun rasa percaya diri mereka," ujarnya.
Ia menilai kemampuan bahasa Inggris menjadi modal penting bagi generasi muda untuk membuka akses pendidikan, beasiswa, hingga peluang karier di masa depan.
Pertunjukan ditutup dengan tepuk tangan panjang dari para penonton sebagai bentuk apresiasi atas penampilan para siswa.
Melalui Magada Kingdom Has Fallen, ELCI School berhasil memadukan pembelajaran bahasa Inggris dengan pelestarian budaya Nusantara dalam sebuah pertunjukan yang edukatif dan menghibur.(mun)