Nasional Pati Jateng Kudus Jepara Grobogan Rembang Blora Sepakbola Olahraga Feature Khazanah Life Style Entertainment Wisata Kuliner Muria Raya Tekno

Nyaris 100 Desa di Pati Terancam Kekeringan, BPBD Siapkan Truk Tangki dan Tandon Air

Andre Faidhil Falah • Jumat, 17 Juli 2026 | 09:38 WIB

SULIT AIR: Warga Gabus mengambil air menggunakna galon di salah satu kediaman warga setempat.  (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
SULIT AIR: Warga Gabus mengambil air menggunakna galon di salah satu kediaman warga setempat. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mulai mengantisipasi potensi kekeringan pada musim kemarau 2026. 

Sebagai langkah kesiapsiagaan, BPBD menyiapkan armada truk tangki dan tandon air untuk memenuhi kebutuhan air bersih jika desa-desa mulai mengalami krisis.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan hingga awal Juli 2026 belum ada laporan maupun permohonan bantuan air bersih dari pemerintah desa atau masyarakat.

Baca Juga: Banjir Rob Terparah Rendam Desa Tunggulsari Pati, 55 KK Terdampak dan Aktivitas Lumpuh

"Memasuki awal Juli belum ada masyarakat maupun pemerintah desa yang mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBD," ujarnya.

Meski belum ada pengajuan bantuan, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan.

Berdasarkan data tahun sebelumnya, sekitar 96 desa di tujuh kecamatan berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Wilayah rawan tersebut meliputi Kecamatan Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, serta sebagian wilayah Kecamatan Gabus dan Kayen.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD telah menyiapkan empat unit truk tangki air dan delapan unit tandon air yang siap digunakan untuk mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.

"Ada empat truk tangki yang kami siapkan untuk menghadapi musim kemarau. Selain itu, BPBD juga memiliki delapan tandon air yang siap dipinjamkan kepada desa-desa yang membutuhkan," jelas Martinus.

Ia menambahkan, setiap truk tangki maupun tandon memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter.

Pemerintah desa yang membutuhkan tandon dapat berkoordinasi langsung dengan BPBD agar fasilitas tersebut bisa dipinjamkan selama musim kemarau.

"Silakan pemerintah desa berkoordinasi dengan BPBD apabila membutuhkan tandon air. Kami siap meminjamkannya selama musim kemarau," katanya.

Sementara itu, dampak kekeringan mulai dirasakan sebagian warga di Kecamatan Gabus. Wati, warga Desa Gabus, mengaku setiap hari harus mengambil air bersih menggunakan galon dari lokasi penyaluran bantuan.

Menurutnya, warga harus berjalan ke RT lain dengan melewati sungai dan jembatan sempit untuk mendapatkan air bersih karena sumber air di lingkungan mereka mulai berkurang.

"Kami mengambil air di RT sebelah. Harus melewati sungai dan jembatan karena sudah beberapa minggu ini sulit mendapatkan air," tuturnya.

Hal senada disampaikan Komeng, warga setempat.

Ia mengatakan sebagian masyarakat kini bergantung pada bantuan air bersih dari pemerintah maupun pihak swasta karena sungai dan sejumlah sumur warga mulai mengering.

"Kondisi sungai sudah kering dan beberapa sumur warga juga tidak lagi mengeluarkan air. Saat ini kami mengandalkan bantuan air bersih," ujarnya.

Meski demikian, Komeng menyebut tidak seluruh wilayah Kecamatan Gabus mengalami kekeringan.

Krisis air bersih terutama terjadi di beberapa RT dan dukuh yang berada di wilayah selatan jembatan.

Ia menambahkan, sumur bor miliknya masih mengeluarkan air, tetapi debitnya sangat kecil sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan air sehari-hari keluarganya.

"Sumur saya masih ada air, tetapi keluarnya sedikit sekali sehingga tetap tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari," pungkasnya.(adr)

Editor : Abdul Rochim
kekeringan Pati bantuan air bersih musim kemarau 2026 Kecamatan Gabus bpbd pati