PATI — Aksi peringatan Hari Anti Tambang yang digelar di depan Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Pati pada Jumat (29/5) sempat memanas setelah massa membakar spanduk bergambar wajah Kapolresta Pati.
Aksi tersebut dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang dipimpin aktivis Teguh Istiyanto dan Supriyono.
Mereka hadir dalam demonstrasi sebagai bentuk solidaritas antarelemen masyarakat yang mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap aktivitas tambang ilegal di Kabupaten Pati.
Situasi berubah tegang ketika Supriyono alias Botok bersama massa AMPB dan Sutikno alias Paijan Jawi membawa spanduk besar bergambar Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi.
Baca Juga: DUGAAN KORUPSI DAK Sekolah, Kejari Pati Periksa Pejabat Dinas Pendidikan
Spanduk tersebut dibentangkan di gerbang Kantor Setda Pati sebelum akhirnya dibakar di tengah jalannya aksi demonstrasi.
Tak lama setelah api menyala, aparat kepolisian langsung bergerak memadamkan kobaran api. Akibatnya, bagian gambar wajah Kapolresta pada spanduk tampak hangus sebagian.
Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Gunretno, menegaskan aksi pembakaran gambar bukan bagian dari konsep aksi damai yang sejak awal diusung massa demonstrasi.
“Kami tekankan tidak ada pembakaran,” ujar Gunretno kepada awak media usai aksi.
Meski demikian, ia menilai tindakan tersebut muncul sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap penanganan persoalan tambang ilegal oleh Polresta Pati.
Menurutnya, kemarahan warga yang selama ini menyoroti maraknya tambang ilegal menjadi pemicu munculnya aksi spontan tersebut.
Gunretno menegaskan perjuangan JMPPK selama ini tetap mengedepankan kerukunan dan pesan damai dalam menyuarakan penolakan terhadap aktivitas tambang ilegal di Pegunungan Kendeng.
Pria yang akrab disapa Kang Gun itu juga meminta publik tidak hanya fokus pada aksi pembakaran spanduk, tetapi lebih memperhatikan substansi persoalan tambang ilegal yang hingga kini dinilai belum terselesaikan.
“Ini alarm besar karena kejengkelan terhadap persoalan yang ditangani polisi tidak selesai. Kami akan berkoordinasi dengan pihak yang melakukan itu. Ini bukan selesai pada pembakarannya, tapi bagaimana kasus tambang ilegal ini bisa diselesaikan. Kami mengajak mencari penyelesaian yang baik,” tegas tokoh Sedulur Sikep tersebut. (adr)