BATANGAN - Pemprov Jateng meresmikan pabrik garam industri di Desa Raci, Kecamatan Batangan.
Diperkirakan pabrik itu bisa menghasilkan 25 ribu ton garam.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan pentingnya peran petani sebagai penopang utama dalam persoalan ketahanan pangan, termasuk dalam hal produksi garam nasional.
Ia menyebut, dukungan dari berbagai pihak, terutama oftaker (penjamin pembeli), sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan sektor garam rakyat.
“Petani adalah penopang ketahanan pangan. Dalam hal ini, kita juga harus mendukung saudara-saudara kita, para petani garam. Kami butuh support oftaker agar produksi garam ini terserap optimal,” ujar Sumarno dalam kunjungannya di Pati.
Ia menyampaikan bahwa produksi garam di Kabupaten Pati saat ini mencapai hampir 150 ribu ton per tahun.
Sementara itu, salah satu pabrik yang ada hanya mampu menyerap sekitar 25 ribu ton.
Artinya, kapasitas serapan ini masih perlu didorong agar potensi besar yang ada tidak terbuang sia-sia.
“Kapasitas serapan saat ini baru 25 ribu ton, padahal potensi produksinya jauh lebih besar. Karena itu, kami perlu dukungan dari semua pihak untuk memperkuat rantai distribusi dan daya serap industri,” lanjutnya.
Selain dari sisi kuantitas, Sumarno juga menyoroti soal kualitas garam yang masih menjadi pekerjaan rumah.
Ia mengungkapkan bahwa kadar NaCl garam produksi lokal saat ini masih berada di angka 27 persen, sementara standar kebutuhan industri berada di atas 90 persen NaCl.
“Ini menjadi PR kita bersama. Kita perlu mendorong agar kualitas garam bisa ditingkatkan hingga memenuhi kebutuhan industri,” tegasnya.
Ia juga menyinggung soal komitmen pasar melalui perjanjian kerja sama (MoU) yang sudah disepakati.
Dari kapasitas 25 ribu ton yang dimiliki pabrik, saat ini baru sekitar 75 persen yang sudah terikat dalam MoU.
Sisanya, sekitar 25 persen, masih menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan.
Sumarno menilai bahwa tidak semua provinsi di Indonesia memiliki produsen garam yang memadai.
Oleh karena itu, Pati dengan segala potensi yang dimilikinya, bisa menjadi penopang utama kebutuhan garam di Pulau Jawa.
“Pati punya peluang besar untuk mensuplai kebutuhan garam di Pulau Jawa. Ini potensi besar yang harus terus kita dorong,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Ppati Sudewo menyebutkan, SPJT merupakan BUMD Provinsi Jawa Tengah. Perusahaan ini sedang merupakan pabrik garam industri di Desa Raci yang diresmikan Gubernur Jawa Tengah.
"Hari ini peresmian pabrik. Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak gubernur. Kehadiran pabrik akan memberikan kesejahteraan petani garam," paparnya.
Menurutnya, kehadiran pabrik ini akan memberikan dampak langsung bagi petani garam setempat. Pabrik ini akan membantu petani garam karena garamnya langsung dibeli oleh pabrik, dibayar cash.
“Kapasitas dalam tahun pertama ini 25 ribu ton. Nanti akan ditingkatkan, sehingga petani garam di Kecamatan Batangan akan terbantu pemasarannya,” ujarnya.
Sudewo optimistis pabrik garam industri ini tak hanya mengangkat kesejahteraan petani, tapi juga menjadi motor penggerak ekonomi Pati.
“InsyaAllah, dengan adanya kehadiran pabrik garam itu sendiri akan membawa kemajuan perekonomian Kabupaten Pati,” pungkasnya. (adr)
Editor : Abdul Rochim