PATI, RADARPATI.ID - Tak kebanyakan orang bersedia melestarikan budaya. Diah Ayu Fatmawati, memilih untuk menggeluti dunia seni tari tradisional.
Diah, sapaan akrabnya, menekuni tari sejak kecil.
Dia beberapakali menunjukkan foto-foto dan video itu. Penampilannya memang gemulai seperti penari profesional.
Perempuan 22 tahunan itu sejak di bangku sekolah dasar (SD) mulai menggeluti dunia seni. Dia belajar melalui rekaman video.
Waktu itu memang tak ada youtube. Akses untuk belajar masih sulit.
Perempuan asal Ponogoro itu belajar menari lewat kaset CD koleksinya. Dia memutar rekaman beberapa kali sambil latihan.
”Sebenarnya kalau tari itu sejak TK. Saya belajar lewat CD. Tak seperti sekarang yang bisa nonton youtube sambil belajar,” paparnya.
Keterampilan menarinya itu didapat dari ekstra kulikuler. Waktu itu di bangku SD.
”Saat SD saya ikut ekstra wajib tari. Di situ saya mulai latihan,” tukasnya.
Harapan Diah ini bisa berbagi pengalaman dengan teman sebaya atau usia di atasnya. Dari pengalamannya, ia mau melatih gen Z yang sebenarnya memiliki talenta di bidang seni tari.
”Bisa melatih anak-anak muda. Semoga diberi kesempatan,” jelasnya.
Di usia remajanya ini, ia tak hanya ikut even lokalan saja. Bahkan ada even bergengsi hingga nasional.
”Ada Festival Tomini. Ada juga Festival Nasional Reog Ponorogo,” jelasnya.
Menggeluti seni sejak dini, karena itulah menari ini menjadi passion-nya. Dari sana tumbuh keinginan untuk melestarikan budaya ini.
Diah juga aktif di berbagai sanggar tari. Motivasinya memang mendalami seni tari. Di samping itu, nguri-nguri budaya.
”Mengikuti sanggar tari. Benar-benar aktif di bidang seni tari tradisional,” ungkapnya.
Karena sudah menjadi passion, ia membulatkan tekat untuk menjadi penari beneran. Karena sejak kecil ia sudah nyemplung di dunia seni tari itu.
”Sudah menjadi passion saya. Sudah menjadi bakat juga. Jadi saya secara tak langsung tertarik dan menggelutinya,” ucapnya.
Apalagi gen Z ini kebanyakan kurang akan pemahaman atau kepedulian dunia seni. Masih suka kongkow-kongkow dan menghabiskan waktu.
Diah ini berbeda. Dari ketertarikannya itu, dirinya melestarikan kesenian daerahnya.
”Tak banyak anak muda yang nguri-nguri budaya. Saya sebagai generasi muda ini harus ikut nguri-nguri budaya. Jadi siapa lagi, kalau bukan dimulai dari diri kita sendiri,” bebernya. (adr/him)
Editor : Abdul Rochim