PATI, RADARPATI.ID - Menjelang haul, makam Sunan Prawoto, Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati dipadati peziarah dari warga setempat hingga dari manca daerah.
Haul Sunan Prawoto diperingati setiap tanggal 17 Rajab. Tahun haul akan digelar pada 28 Januari 2024.
Hampir setiap hari makam tersebut didatangi orang-orang untuk berziarah.
Warga setempat berziarah ke makam sesuai dengan rombongannya. Rombongan tersebut diurutkan berdasarkan kampung/dukuh.
“Saya sudah datang ke sini dua kali dalam seminggu ini karena rumah saya dekat” Terang Titin beberapa waktu lalu (11/1).
Selain warga setempat, peziarah dari manca daerah juga banyak yang berziarah ke makam tersebut.
“Saya sudah biasa ziarah ke sini, hampir setiap tahun saya ke sini bersama rombongan ngaji saya” Ujar Marni .
Di makam tersebut sudah ada orang yang ahli untuk memimpin tahlil/ziarah.
Jadi para peziarah yang tidak hafal bacaan tahlil bisa minta bantuan kepada pemimpin tahlil yang ada di makam tersebut.
Untuk berziarah ke makam tersebut tidak harus bersama rombongan. Jika ingin berziarah sendiri juga sangat diperbolehkan.
Tak hanya orang tua yang berziarah ke makam tersebut.
Tapi, muda-mudi dan anak-anak juga ikut berziarah ke makam tersebut. Di makam tersebut,
banyak didatangi para peziarah sampai malam puncak acara haul. " Biasanya kalau hari Kamis dan Jum'at peziarah lebih banyak dari pada hari-hari biasa" Ujar Dono.
Sunan Prawoto biasa dikenal dengan nama Raden Bagus Hadi Mu’min. Beliau merupakan putra dari Sultan Trenggono.
Beliau menjadi raja keempat di kerajaan Demak pada tahun 1546 untuk menggantikan ayahnya yang sudah meninggal.
Pada saat itu, Arya Panangsang melakukan pemberontakan kepada Sunan Prawoto.
Kemudian Sunan Kudus mendukung Arya Panangsang guna merebut kekuasan kerajaan Demak dari tangan Sunan Prawoto.
Setelah itu Arya Panangsang mengutus seseorang untuk membunuh Sunan Prawoto.
Dan pada saat itu Sunan Prawoto meninggal karena dibunuh oleh Rungkud. Sunan Prawoto dimakamkan di Prawoto, tepatnya di dukuh Bintoro.
“Konon, para orang yang memiliki kemampuan spiritual tinggi melihat makam Sunan Prawoto dijaga oleh dua macan putih,” beber Dono.
Karena itu, para warga setempat percaya Sunan Prawoto merupakan leluhur yang telah melindungi desanya.
Hingga sampai saat ini haul Sunan Prawoto terus diperingati setiap tahunnya. Hari-hari biasa makam Sunan Prawoto juga ramai didatangi para peziarah dari manca daerah.
Tapi, tidak seramai seperti waktu menjelang haul. Dua minggu sebelum haul, biasanya para pedagang dari luar daerah sudah berdatangan untuk mencari tempat berdagang (mremo).
Selain itu, juga ada wahana permainan banyak sekali yang datang, seperti biang lala, mandi bola, kora-kora dan lainnya.
Warga Desa Prawoto biasa menyebut semua wahana permainan itu dengan nama dermolon. Dermolon tersebut diletakkan di alun-alun desa setempat.
Pada malam hari alun-alun dipadati warga untuk jalan-jalan atau berbelanja. Dermolon tersebut terus berlanjut sampai pada malam puncak haul.
Pada waktu hari pelaksanaan dermolon ramai tidak hanya waktu malam hari, namun sejak pagi pun sudah sangat ramai. Pada hari tersebut, terdapat kirab lurub dan pawai.
“Pawai ini sengaja dibuat besar-besaran untuk memperingati haul Sunan Prawoto yang ke-46, semua panitia telah menyiapkan secara matang supaya acara pawai bisa berjalan dengan lancar” ucap Birin.
Pawai tersebut diikuti oleh semua peserta didik mulai dari PAUD sampai SMA.
Selain itu juga ada para pemuda-pemudi yang ikut pawai dengan membawa karnaval yang telah dibuatnya.
Karnaval-karnaval tersebut dibuat berdasarkan kampung/dukuhnya.
Masing-masing dukuh membuat satu karnaval dan diikuti para pemuda-pemudinya untuk siap diiring keliling desa.
Para aparat desa dan tamu besar juga ikut serta dalam pawai tersebut.
Sementara lurub atau kain pembungkus batu nisan Sunan Prawoto pun juga ikut dalam acara kirab tersebut.
Kain lurub tersebut dibawa oleh gadis desa pilihan yang sudah dipilih oleh panitia penyelenggara.
Selain itu juga ada marching band dari semua sekolah yang memiliki marching band-nya.
Para bapak dan ibu juga ikut serta dalam pawai tersebut dengan membawa padi, jagung, ubi-ubian, palawija dan lainnya.
Pada hari itu setelah dzuhur semua peserta pawai berkumpul di halaman balai desa. Setelah semuanya berkumpul, sekitar pukul 14.30 pawai sudah dimulai.
Start dari balai desa Prawoto dan finish di makam Sunan Prawoto.
Setelah finish, lurub tersebut diserahkan kepada pamong desa yang bertugas untuk mengganti kain penutup batu nisan Sunan Prawoto.
Pada malam harinya di makam Sunan Prawoto terdapat pengajian umum.
Pengajian dimulai pada waktu setelah isya’ dan selesai pada waktu dini hari.
Pengajian tersebut dihadiri oleh Habib Ahmad Bin Abu Bakar Assegaf dan KH Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) serta diiringi oleh hadroh Al Murtasyida.
Pengajian tersebut digelar secara umum dan banyak pula pengunjung yang datang dari manca daerah untuk mengikuti pengajian tersebut. (CindyAntika/him)
Editor : Abdul Rochim