Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Wanita Stroke di Usia 28 Tahun, Perjuangan Khanh Linh Bangkit dari Aneurisma Otak

Alfian Dani • Minggu, 21 Desember 2025 | 16:10 WIB
Foto ilustrasi/freepik
Foto ilustrasi/freepik

JAKARTA – Hidup Khanh Linh berubah drastis di usia 28 tahun. Perempuan asal Vietnam itu terserang stroke mendadak saat berada di kantor, 12 Juni 2025 lalu.

Sakit kepala hebat yang datang tiba-tiba membuatnya tak sadarkan diri hanya dalam hitungan menit.

Sekitar satu jam kemudian, dokter di Rumah Sakit Thai Nguyen memastikan Linh mengalami stroke akibat pecahnya aneurisma otak yang dipicu kelainan pembuluh darah bawaan.

Kondisinya kritis hingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Militer Pusat 108 di Hanoi untuk menjalani operasi darurat.

“Aku tidak ingat apa pun selama seminggu,” kata Linh, dikutip dari VNExpress.

Seluruh cerita tentang masa kritis itu ia ketahui dari keluarga yang setia mendampingi.

Linh menjalani operasi endovaskular modern dengan biaya besar. Namun, operasi hanyalah awal dari perjuangan panjangnya.

Ia harus dirawat lebih dari 20 hari di rumah sakit sebelum diperbolehkan pulang dan menjalani rehabilitasi.

Lima bulan pascastroke, kondisinya belum sepenuhnya pulih. Wajahnya masih mengalami kelumpuhan, sulit berbicara, mata kiri tidak bisa menutup sempurna, dan tubuhnya lemah hingga belum mampu berjalan mandiri.

Aktivitas sederhana pun menjadi tantangan. Mulut yang tak bisa menutup rapat membuat air liur sering keluar tanpa disadari.

Pada fase awal pemulihan, Linh bahkan membutuhkan dua orang untuk merawatnya dan harus menggunakan selang makan.

Berat badannya turun drastis dari 47–48 kilogram menjadi 40 kilogram. Setelah menjalani terapi intensif, berat badannya perlahan mulai meningkat.

Sebelum stroke, Linh merasa hidupnya baik-baik saja. Ia hanya sempat merasakan sakit kepala ringan beberapa hari sebelumnya dan menganggapnya sebagai efek cuaca.

Ia mengakui memiliki gaya hidup kurang sehat, sering begadang, telat makan, dan mengalami stres kerja berkepanjangan.

Masa awal pemulihan menjadi periode terberat secara mental. Linh sempat merasa putus asa, tidak berguna, dan takut menjadi beban keluarga.

Kondisi tersebut sejalan dengan temuan jurnal medis The Lancet yang menyebut sekitar sepertiga penyintas stroke mengalami depresi dalam lima tahun pertama.

Dukungan keluarga menjadi titik balik bagi Linh. Ibu dan kakaknya tak pernah meninggalkannya, memberikan dukungan fisik dan emosional di setiap tahap pemulihan.

Untuk menjaga kesehatan mental, Linh mulai membagikan proses rehabilitasinya melalui video singkat di TikTok.

Awalnya sebagai catatan pribadi, namun respons positif dari warganet membuatnya merasa perjuangannya memiliki arti.

Kini, Linh menjalani rehabilitasi ketat setiap hari, mulai dari akupunktur, pijat terapi, hingga latihan berjalan. Setiap kemajuan kecil ia anggap sebagai kemenangan.

Data global menunjukkan kasus stroke pada usia muda terus meningkat. WHO memperkirakan sekitar 15 persen kasus stroke terjadi pada usia di bawah 45 tahun.

Faktor pemicunya antara lain stres kronis, pola hidup tidak sehat, serta penyakit yang kerap tak terdeteksi sejak dini. (ade)

Editor : Alfian Dani
#gaya hidup sehat #penyintas stroke #aneurisma otak #stroke usia muda #kesehatan anak muda