Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Jepalo Coffee Folklore : Suasana Ngopi yang Tenang di Pedesaan Gunung Muria

Achmad Ulil Albab • Senin, 15 Desember 2025 | 22:07 WIB
Suasana di dalam Jepalo Coffee Folklore yang hangat dan cocok untuk menikmati kopi. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)
Suasana di dalam Jepalo Coffee Folklore yang hangat dan cocok untuk menikmati kopi. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

 

PATI - Di tengah maraknya kedai kopi yang tumbuh di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sebuah kedai kecil di pelosok Desa Jepalo justru menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bukan deru kendaraan atau hiruk pikuk kota yang menemani, melainkan hamparan sawah, semilir angin pedesaan, dan siluet Pegunungan Muria di kejauhan. Di situlah Jepalo Coffee Folklore berdiri, menyuguhkan kopi sekaligus pengalaman.

Jepalo Coffee Folklore berada di Desa Jepalo, Kecamatan Gunungwungkal. Lokasinya memang jauh dari pusat keramaian, namun justru itulah daya tariknya.

Setiap cangkir kopi yang tersaji seolah menyatu dengan alam sekitar, menciptakan suasana ngopi yang menenangkan.

Luqman, sang pemilik, membangun kedai ini sejak tahun 2017. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, melainkan cerita tentang tanah kelahiran.

Biji kopi yang diolahnya berasal dari kebun sendiri di lereng Pegunungan Muria, tepatnya dari wilayah Jepalo.

“Green bean-nya dari sini semua, dari Jepalo. Saya olah sendiri, dari kebun sampai jadi kopi siap minum,” kata Luqman, Minggu (14/12/2025).

Di Jepalo Coffee, pengunjung bisa menikmati beragam pilihan minuman. Mulai dari kopi robusta dan arabika, kopi susu, hingga matcha.

Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong, berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per cangkir.

Meski demikian, Luqman menegaskan kualitas rasa tetap menjadi prioritas utama.

“Soal rasa saya jamin. Tidak kalah dengan kafe-kafe elit di luar sana,” ujarnya.

Tak hanya melayani pengunjung di kedai, Luqman juga memasarkan kopi kemasan dalam bentuk bubuk maupun roast bean.

Pembelinya pun datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Pati, tetapi juga Surakarta, Semarang, Yogyakarta, Tangerang, bahkan hingga luar negeri seperti Hongkong.

Seorang pelanggan setia sedang menikmati kopi sambil melihat pemandangan kaki Gunung Muria.
Seorang pelanggan setia sedang menikmati kopi sambil melihat pemandangan kaki Gunung Muria.

Untuk roast bean, Luqman mematok harga antara Rp170 ribu hingga Rp190 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya.

Sementara kopi bubuk kemasan dijual seharga Rp150 ribu per kilogram, mulai dari robusta grade bawah hingga fine.

Keunikan Jepalo Coffee tak berhenti di situ. Luqman juga melakukan eksperimen dengan menghadirkan roast bean beraroma pisang pandan.

Inovasi ini berawal dari cara bertani yang ia terapkan secara organik, dengan sistem tumpang sari antara tanaman kopi dan pohon pisang.

“Dari perawatan tanamannya sudah beda. Ada pohon pisang di sela-sela kopi, hasilnya aromanya jadi pisang creamy, rasanya pandan,” jelasnya.

Roast bean pisang pandan tersebut dijual seharga Rp120 ribu per 200 gram, sementara untuk segelas kopi siap minum dibanderol Rp20 ribu.

Suasana pedesaan yang tenang menjadi alasan banyak pelanggan betah berlama-lama. Salah satunya Ulin, warga Kecamatan Tlogowungu. Ia mengaku rutin datang ke Jepalo Coffee hampir setiap pekan.

“Saya suka suasananya. Ngopi di pelosok desa, tapi pemandangannya sawah dan pegunungan. Rasanya beda, lebih tenang,” tuturnya.

Di Jepalo Coffee Folklore, kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang menikmati waktu, alam, dan cerita yang tumbuh dari tanah desa. (aua)

Editor : Achmad Ulil Albab
#kopi #jepalo gunungwungkal pati #Gunung Muria #kuliner #Folklore