KUDUS – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus menindaklanjuti informasi mengenai adanya siswa SD 5 Hadipolo yang diduga bekerja sepulang sekolah untuk membantu perekonomian keluarga.
Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus Putut Winarno bersama tim dan Kepala Desa Hadipolo Suleman Slamet mendatangi SD 5 Hadipolo, Kecamatan Jekulo, untuk melakukan observasi dan mengumpulkan informasi dari pihak sekolah.
Observasi dilakukan guna memastikan jumlah siswa yang kerap meminta pulang lebih awal sebelum jam pelajaran selesai karena harus bekerja.
Baca Juga: Aset Pemkab Dialih Sewakan Penyewa, Disewakan Jauh Lebih Tinggi
Berdasarkan keterangan sekolah, dari total 29 siswa yang bersekolah di SD 5 Hadipolo, terdapat dua siswa yang diketahui rutin pulang sekitar pukul 10.00 WIB.
Padahal, jam belajar seharusnya berakhir pukul 12.15 WIB. Bahkan, salah satu di antaranya juga tercatat jarang masuk sekolah.
Pihak sekolah menyampaikan, kedua siswa tersebut pulang lebih awal dengan alasan bekerja.
Aktivitas yang dimaksud antara lain mengamen, mengemis, hingga berjualan di jalanan.
Keduanya diketahui tinggal di Kampung Sosial, RT 6/RW 2, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo.
Namun, salah satu siswa masih tercatat sebagai warga Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, berdasarkan kartu keluarga.
Putut Winarno mengatakan, pihaknya belum dapat menyimpulkan adanya eksploitasi anak.
Saat ini Dinsos masih melakukan asesmen terhadap keluarga kedua siswa tersebut bersama pemerintah desa dan pihak sekolah.
"Kami akan melaksanakan asesmen dulu ke keluarga. Kami cek kondisi ekonominya, menerima bantuan atau tidak. Kami tidak bisa langsung melihat bahwa ini eksploitasi anak. Kami lihat dulu kondisi keluarganya seperti apa," ujarnya.
Menurutnya, apabila hasil asesmen menunjukkan keluarga membutuhkan intervensi pemerintah, Dinsos akan memberikan pendampingan serta mengusulkan bantuan sosial maupun program pemberdayaan ekonomi.
"Kalau memang keluarganya membutuhkan bantuan dan belum menerima bantuan, nanti kami usulkan. Kalau perlu bidang rehabilitasi sosial juga masuk. Tujuannya agar anak tetap bisa belajar dan keluarganya bisa hidup lebih layak," katanya.
Selain melakukan asesmen, Dinsos juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Hadipolo untuk mendampingi keluarga.
Pendekatan tidak hanya dilakukan kepada anak, tetapi juga kepada orang tua agar kondisi ekonomi keluarga dapat meningkat.
"Intinya bagaimana anak tidak kehilangan masa depan dan tetap mendapatkan hak-haknya, terutama hak belajar. Kalau keluarganya perlu pemberdayaan, pelatihan kerja, bantuan modal, atau bantuan sosial, Dinsos akan memfasilitasi sesuai kebutuhan," tambahnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD 5 Hadipolo, Solichul Hadi, mengatakan sekolah terus berupaya menghilangkan stigma sebagai "Sekolah Kampung Sosial" yang selama ini melekat.
Menurutnya, stigma tersebut turut memengaruhi minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di SD tersebut.
Saat ini, SD 5 Hadipolo memiliki 29 siswa dari kelas I hingga kelas VI.
Pihak sekolah juga terus melakukan pendekatan kepada siswa maupun orang tua agar seluruh peserta didik tetap mengikuti proses belajar secara optimal.
"Memang ada beberapa anak yang setelah pulang sekolah ingin segera pulang. Guru juga kadang menjumpai mereka di jalan dan langsung mengajak mereka kembali," ujarnya.
Ia menambahkan, koordinasi dengan orang tua terus dilakukan agar setiap persoalan yang dihadapi siswa dapat diselesaikan bersama.
Di sisi lain, Kepala Desa Hadipolo Suleman Slamet menyatakan pemerintah desa siap menindaklanjuti hasil koordinasi dengan Dinsos dan pihak sekolah, termasuk membentuk komite sekolah yang melibatkan pemerintah desa.
"Kami akan bekerja sama dengan Dinsos agar anak-anak yang memang membutuhkan pendampingan bisa mendapatkan bantuan yang tepat. Yang penting anak-anak tetap bisa sekolah dengan baik," tegasnya. (*/him)
Editor : Abdul Rochim