Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Mengenal Noor Saidah, Produsen Mukena asal Kudus Produksi 4.000 Pcs Langsung Ludes

Indah Susanti • Jumat, 14 Maret 2025 | 03:08 WIB

 

PRODUSEN MUKENA: Noor Saidah memperlihatkan mukena hasil produksinya yang saat ini lagi tren. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)  
PRODUSEN MUKENA: Noor Saidah memperlihatkan mukena hasil produksinya yang saat ini lagi tren. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)  

KUDUS , RadarPati.ID - Pengusaha mukena asal Desa/Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Noor Saidah memproduksi 4.000 pcs dengan beragam motif untuk Lebaran.

Dilanjut produksi dengan jumlah yang sama untuk bulan Haji.

INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Pati

Baca Juga: Masjid Baitul Atiq Al Jabbaar di Jepara Bangunan Tiru Desain Kakbah, Jadi Obat Rindu Tanah Suci

KARUNG berisi kain putih yang sudah ada motif bordir itu, siap untuk dieksekusi untuk dijadikan mukena.

Kain tersebut dipilah-pilah, meski warna sama-sama putih, tapi jenis kainnya berbeda.

Selain ada pemilahan kain, di tempat produksi pembuatan mukena milik Noor Saidah banyak tumpukan mukena yang sudah jadi dan dikemas dalam plastik. Kemudian siap dikirim ke customer.

Produsen mukena asal Desa/Kecamatan Kaliwungu, Kudus, ini sudah berproduksi sejak 2015 lalu.

Awal mula bisnis yang digelutinya bukan mukena, tapi bordir yang dimulai pada sekitar 1999 silam.

”Saya kali pertama membuat bordir menggunakan alat manual. Begitu ramai pemesanan. Lalu tenaga berkurang karena banyak pekerja yang resign. Akhirnya saya putuskan untuk membeli mesin bordir,” jelasnya.

Ia sempat banyak mendapatkan order bordir untuk kebaya. Sebab, saat itu kebaya sedang menjamur.

Bahkan, setiap toko menjual. Saat mulai surut, dia berpikir untuk membuat mukena dengan motif bordir pada 2015 lalu.

Ia kali pertama produksi tidak banyak. Hanya 100 pcs. Noor Saidah kemudian menjajakan karyanya itu, keliling pasar-pasar.

Mulai dari pasar di Jepara, Demak, dan Kudus. Sedikit demi sedikit mulai ada peningkatan pemesanan.

Lalu, ia memberanikan diri menawarkan ke toko yang menjual mukena secara grosir.

”Alhamdulillah cocok dan saya mulai tinggalkan yang mengambil eceran. Saya laku di grosir hingga sekarang ini,” ucapnya.

Kain mukena yang ia gunakan berjeni katun dan rayon premium.

Untuk motifnya bordir dan ada yang dikombinasikan dengan renda-renda. Customer bisa juga memesan sesuai permintaan.

Mukena buatannya ia bandrol Rp 50 ribu dan paling mahal kisaran Rp 150 ribu.

Pada Ramadan ini, Noor Saidah sebulan lalu sudah membuat stok mukena hingga 4.000 pcs dan menghabiskan sekitar 1.000 gulung kain.

Untuk saat ini, satu kios yang ia setor mukena, memesan 100 hingga 200 pcs dengan motif yang berbeda.

”Saya sekarang ini setornya ke Pasar Kliwon saja, nanti diambil bakul-bakul dari luar kota,” ujarnya.

Untuk pekerja yang ia miliki, justru banyak yang dari Kabupaten Jepara.

”Cari di Kudus sendiri susah, karena banyak yang memilih bekerja di pabrik. Ada sekitar 20 pekerja yang mengawasi mesin bordir dan jahit,” katanya.

Untuk saat ini, stok yang ia miliki sudah tidak banyak, karena sudah terdistribusikan semua di pasar.

Tinggal menyelesaikan pesanan suvenir untuk oleh-oleh Haji untuk bulan Idul Adha nantinya dan dari biro haji dan umrah.

”Mukena saya sampai dipasarkan di Makkah. Setiap ada customer memesan 200 pcs dijual di Makkah,” jelasnya.

Noor Saidah juga melayani pesanan mukena ihram dan saat ini sudah ia garap. Sebab, usai Lebaran langsung memenuhi pesanan untuk bulan Haji.

Dia menerangkan, tren atau model mukena sekarang ini, warna hitam dengan corak bordir gold dikombinasi dengan renda.

”Kalau mukena yang saya produksi dominan putih, kalaupun ada warna lain itu sesuai permintaan dan mengikuti tren. Tapi, saya juga tidak membuat hanya satu item warna, agar ada pilihan. Karena selera orang berbeda-beda,” ungkapnya.

Mukena Noor Saidah, pilihan kainnya sangat diperhatikan. Ia pernah mengambil kain dari PT Sritex.

Karena tiap membeli kain selalu naik harganya, ia beralih membeli kain lewat sales sampai sekarang.

”Kalau kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kain itu tidak, justru benang yang terkadang kesulitan, karena warna kilapnya kadang berbeda,” imbuhnya. (*/lin)

Editor : Abdul Rochim
#jepara #kudus #pasar kliwon #mukena