KUDUS, RadarPati.ID – Latar belakang dan tugas seorang santri adalah ngaji atau belajar, meski disibukan dengan urasan keduniawian.
Prinsip ini tampaknya terus dipegang oleh poltikus asal Kudus Nusron Wahid ketika ia pulang ke Kudus.
Diketahui, Nusron Wahid yang kini digadang-gadang bakal menjadi menteri di kabinet Prabowo-Gibran.
Masa kecilnya berada di lingkaran keluarga santri. Juga tak jauh dari pondok pesantren.
Ini ditunjukkan saat mengeyam pendidikan tingkat madrasah aliyah atau SMA, politisi Partai Golkar ini, belajar di MA Qudsiyah Kudus dan SMA NU Al Ma’ruf.
Menurut Arief Wahyudi -keponakan Nusron, setiap selapan sekali atau 40 hari ia menyempatkan mengajar para santrinya yang menimba ilmu di Yayasan Assa’idiyah Al-Qudsy di Desa Mejobo, Mejobo, Kudus.
Pria yang menjadi anggota DPRD Jateng ini menyebut, setiap awal bulan tepatnya hari Jumat, Nusron mengajar santrinya.
Waktu pembelajaran dilaksanakan usai salat Subuh. ”Itu rutin dilakukan. Beliau mengajarkan kitab Aqidatul Awam,” katanya.
Menurutnya, proses belajar mengajar ini menjadi perilaku santri tulen yang selalu diamalkan.
Hal itu dilakukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI tersebut, untuk menghilangkan hausnya santri terhadap ilmu.
Sesibuk apapun, amanah yang diberikan para guru Nusron tetap istiqamah dijalakan hingga detik ini. ”Ini sikap santri yang patuh terhadap perintah gurunya,” ujarnya.
Selain itu, nilai-nilai keistiqamahan ini, diharapkan Wahyudi bisa ditelaah maupaun dipegang erat para santri di era modern ini. Juga menepis santri tidak hanya pintar dalam ilmu agama.
Wahyudi menuturkan, Nusron tak hanya mengajar, tapi rutin juga mengikuti majelis ngaji dan zikir yang dipimpin oleh Gus Idror, putra bungsu KH Maemun Zubair.
Kunci kesuksesan karir Nusron, kata Wahyudi, seorang santri untuk menuju puncak pencapaian harus berani bekorban.
Baik waktu, tenaga, dan lainnya. Di samping itu, santri harus memiliki daya juang yang tinggi.
Kunci-kunci ini, telah diimplementasikan dan terbukti pada keluarga dekat Nusron.
Dicontohkan Wahyudi, seperti adik Nusron, Mawahib Afkar yang juga santri dan politikus.
Terkait, isu ditunjuknya Nusron sebagai calon menteri adalah hak prerogatif dari Presiden Prabowo Subianto.
Apabila amanah itu diberikan, tidak menutup kemungkinan Kabupaten Kudus akan lebih mudah dalam menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat.
Wahyudi menambahkan, kemudahan akan dirasakan oleh Kabupaten Kudus.
Pembangunan infrastruktur hingga anggaran dari pemerintah pusat untuk kemajuan daerah akan lebih dipermudah.
Sebab, Kota Kretek punya kedekatan emosional dengan putra daerah yang akan menjadi menteri. (gal/lin/him)
Editor : Abdul Rochim