Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Sejarah Tradisi Dandangan, Peninggalan Sunan Kudus Penggerak Ekonomi Kerakyatan

Achmad Ulil Albab • Kamis, 29 Februari 2024 | 21:05 WIB
Ilustrasi Menara Kudus Tempo Dulu. (SUMBER KITLV)
Ilustrasi Menara Kudus Tempo Dulu. (SUMBER KITLV)

 


KUDUS, RADARPATI.ID – Tradisi Dandangan selalu identik sebagai even “pasar kaget” terbesar di Kota Kudus.

Setiap tahunnya menjelang bulan Ramadan, ratusan pedagang tumplek blek di sepanjang Jalan Sunan Kudus hingga Pasar Jember.

Berbagai pedagang menggelar dagangannya, mereka datang tidak hanya dari Kota Kudus sendiri.

Pedagang menjual makanan, minuman, pakaian hingga berbagai macam pernak-pernik. Tak heran jika Tradisi Dandangan itu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan di Kudus.

Hal itu tidak terlepas dari sejarah dari Tradisi Dandangan sejak zaman Sunan Kudus pada abad ke-16.

Pada masa itu di tengah-tengah momen menunggu pengumuman tanggal 1 Ramadan, masyarakat memadati sekitar kawasan Masjid Menara Kudus.

Dandangan yang dilaksanakan hari ini seperti menapaktilasi suasana Dandangan pada masa Sunan Kudus itu.

Sejarah tradisi Dandangan sendiri pada masa itu setiap menjelang bulan Ramadan maka banyak orang yang berkumpul.

Tepatnya di sekitaran Masjid Menara yaitu Masjid Al Aqsa untuk menanti pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan tanggal 1 Ramadan.

Orang yang ingin mendengar pengumuman itu sangat banyak dan datang dari segala penjuru, maka orang disekitar Masjid kemudian banyak yang berjualan makanan dengan istilah mremo.

Banyak orang berjualan karena ada kesempatan dan banyak orang yang membutuhkan pada saat itu.

Penentuan Tanggal 1 Ramadan ditandai dengan penambuhan bedug di Menara Masjid, karena bunyi bedug itu dang...dang...dang... maka tradisi pengumuman penentuan Tanggal 1 Ramadan itu dinamakan Tradisi Dandangan.

Puncak seremoni Dandangan dilakukan dengan memukul bedug Masjid Menara Kudus untuk menandai awal bulan puasa.

Kata Dandangan merupakan onomatope dari suara bedug khas Masjid Menara Kudus. Resonansi bedug menimbulkan bunyi yang nyaring.

Sehingga bunyi bedug sebagai awal penanda datangnya bulan puasa disebut Dandangan.

“Pada abad 16, pertanda awal dimulainya 1 Ramadan diumumkan langsung oleh Sunan Kudus. Sunan Kudus merupakan ahli ilmu falak yang bisa mengetahui hitungan hari dan bulan dalam kalender hijriah,” dikutip dari situs Warisan Budaya Kemendikbud.

Pengumuman awal datangnya bulan ramadan dilakukan di pelataran Masjid Menara Kudus dengan memukul bedug di dua waktu.

Pemukulan bedug waktu pertama ditujukan untuk mengumpulkan masyarakat. Pemukulan bedug di waktu kedua ditujukan untuk memutuskan sekaligus membuka awal Ramadhan setelah Shalat Isya.

Pengumuman dimulainya bulan puasa dihadiri oleh murid-murid Sunan Kudus, seperti Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak, Sultan Hadirin dari Jepara, hingga Aryo Penangsang dari Blora.

Masyarakat dari luar Kudus, juga antusias menunggu pengumuman di depan Masjid Menara Kudus.

Sunan Kudus dikenal sebagai sosok ahli Fikih dan Falaq. Sehingga dirinya menjadi rujukan masyarakat dalam hal penetapan tanggal awal bulan Ramadan pada masa itu.

Lamanya waktu menunggu bagi masyarakat yang telah datang ke masjid menara Kudus pada setiap tradisi Dandangan kemudian dimanfaatkan warga dengan berjualan makanan tradisional siap saji. Hal tersebut yang menyebabkan banyak pedagang di sekitar masjid.

Pasar kaget tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi Dandangan masyarakat Kudus dan telah ada selama ratusan tahun.

Kegiatan ini digelar sepuluh hari menjelang bulan Ramadan. Pedagang yang memeriahkan tradisi Dandangan di depan masjid pada awalnya hanya menjual aneka makanan tradisional.

Jumlah pedagang kemudian meningkat memasuki tahun 1980-an. (aua)

BAHAGIA: Ike Desi Setyo Restanti memeluk sang putri, Nazella Resyakila Shahnaz, di rumahnya Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Rabu (28/2).
BAHAGIA: Ike Desi Setyo Restanti memeluk sang putri, Nazella Resyakila Shahnaz, di rumahnya Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Rabu (28/2).
Editor : Achmad Ulil Albab
#kemendikbud #warisan budaya #peninggalan #tradisi #dandangan kudus #sunan kudus #ekonomi #sejarah #Tak benda