Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Makna Puasa Ramadan: Jangan Jadikan Ibadah sebagai Mesin Cuci Dosa

Achmad Ulil Albab • Kamis, 26 Februari 2026 | 16:18 WIB

Anis Sholeh Baasyin pengasuh Suluk Maleman.
Anis Sholeh Baasyin pengasuh Suluk Maleman.

 

KHAZANAH - Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menjadi momentum penting untuk melakukan introspeksi diri secara menyeluruh.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, muncul fenomena yang memprihatinkan, yakni menjadikan agama seolah sebagai “mesin cuci” untuk membersihkan kesalahan tanpa diikuti perubahan sikap yang nyata.

Hal tersebut disampaikan oleh budayawan asal Pati, Anis Sholeh Ba’asyin, saat membuka kegiatan Suluk Maleman pada Sabtu (21/2).

Baca Juga: Suluk Maleman Edisi 169, Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

Ia menilai, tidak sedikit orang yang merasa dosanya telah terhapus hanya dengan menjalankan ibadah, tanpa benar-benar memperbaiki moral dan perilaku.

“Seperti halnya seorang koruptor yang merasa sudah menjadi pribadi baik hanya karena bersedekah, padahal tidak ada perubahan pada esensi moralnya,” ungkap Anis.

Menurutnya, puasa sejatinya mengajarkan manusia untuk menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya mampu dilakukan.

Menahan lapar dan dahaga menjadi simbol pengendalian hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari.

“Intinya adalah bagaimana seseorang mampu membatasi diri. Kalau begitu, puasa paling utama bagi pejabat adalah tidak melakukan korupsi dan tidak menyalahgunakan kekuasaan, meski mereka mampu melakukannya,” tegasnya.

Baca Juga: Suluk Maleman Robohnya Saka Guru Rumah Kami, Refleksi Simbolik Kondisi Sosial Hari Ini

Anis juga menekankan bahwa ibadah, khususnya puasa, mengajarkan kehati-hatian dan kewaspadaan dalam bersikap.

Jika seseorang mampu menjaga perilakunya selama dan setelah Ramadan, maka ibadah tersebut memiliki makna yang mendalam.

Ia mencontohkan, salat seharusnya mencegah seseorang dari perbuatan buruk.

Namun, jika setelah salat perilaku menyimpang masih terus dilakukan, maka perlu dipertanyakan kualitas ibadah tersebut.

“Kalau salat sudah dilakukan tapi kemungkaran tidak berkurang, berarti ada yang perlu dievaluasi,” ujarnya.

Baca Juga: Suluk Maleman Edisi 166: Peradaban Itu Bermula dari Rumah

Dalam kesempatan itu, Anis juga mengutip falsafah Jawa “ngelmu tinemu dening laku”, yang berarti ilmu akan bermakna jika diamalkan.

Ia menegaskan bahwa pengetahuan agama tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ia kemudian menyinggung kisah yang pernah disampaikan oleh Dahlan Iskan tentang seorang ulama di Yaman yang menekankan pentingnya siwak.

Ketika muridnya tidak mempraktikkan ajaran tersebut, kegiatan belajar pun dihentikan.

“Ini menunjukkan bahwa ilmu harus dijalankan, bukan hanya dihafal,” jelasnya.

Baca Juga: Membincang Tuhan, Agama, dan Sains di Forum Suluk Maleman

Anis juga mengulas hadis qudsi yang berbunyi, “Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku?” Menurutnya, maksud dari hadis tersebut bukanlah Allah yang sakit, melainkan manusia di sekitar yang membutuhkan perhatian.

“Jika kita menjenguk tetangga yang sakit atau membantu orang yang kelaparan, di situlah nilai kehadiran Tuhan,” katanya.

Dari hadis tersebut, Anis menekankan pentingnya kepedulian sosial dalam kehidupan beragama. Ibadah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab sosial menjadi semakin besar ketika seseorang memegang jabatan publik. Para pejabat, menurutnya, memiliki kewajiban moral untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

“Ketika ada anak meninggal karena kemiskinan atau masyarakat menderita akibat bencana, para pemimpin juga ikut menanggung tanggung jawab moralnya,” pungkas Anis. (aua)

Editor : Achmad Ulil Albab
#makna puasa #Anis Sholeh Baasyin #ramadan #dosa #suluk maleman #ibadah