JEPARA — Dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Jepara.
Sedikitnya 17 siswa dan guru dari sejumlah sekolah mengalami keluhan mual, pusing, sakit perut hingga diare, Rabu (16/9).
Mereka diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara Karangkebagusan.
Para siswa dan guru yang mengalami gejala kemudian dibawa ke RS PKU Aisyiyah Jepara untuk mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: SPPG Buka Suara, Temukan Keluhan Siswa Langsung Tarik Menu
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Hadi Sarwoko membenarkan kejadian tersebut.
Berdasarkan laporan awal, keluhan muncul setelah penerima manfaat mengonsumsi menu berupa nasi putih, ayam katsu, tumis kol dan wortel, tahu goreng, serta anggur merah.
“Sekitar pukul 09.45 WIB, staf SPPG mendatangi sekolah-sekolah penerima manfaat. Menarik makanan sekaligus meminta maaf kepada pihak sekolah,” ujar Hadi.
Keluhan tersebut melibatkan tiga siswa SD Negeri Karangkebagusan, 13 siswa SD Negeri Kauman, serta seorang guru TK.
Kejadian ini menambah catatan dugaan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan program MBG di Jepara.
Sebelumnya, pada 6 September, sebanyak 106 siswa dan 12 guru dari tiga sekolah juga mengalami keluhan serupa setelah menyantap menu MBG dari SPPG Jepara Mlonggo Sekuro 1.
Terkait kejadian terbaru, Hadi menyebut terdapat bahan baku ayam fillet yang dinilai bermasalah dalam proses penyiapan menu di SPPG Karangkebagusan, milik Yayasan Sarwo Apik Indonesia. SPPG tersebut mulai beroperasi pada 20 Agustus 2025.
SPPG Karangkebagusan memiliki 2.688 penerima manfaat. Jumlah tersebut terdiri atas 2.158 siswa, 161 guru dan tenaga kependidikan, serta 369 kelompok 3B.
Hadi menjelaskan, sebanyak 2.750 potong ayam fillet diterima SPPG pada Selasa (15/9) sekitar pukul 15.18 WIB. Bahan baku tersebut diterima dalam kondisi segar dan sebagian beku.
Ayam beku kemudian menjalani proses pencairan atau thawing selama kurang lebih dua jam.
Setelah itu, ayam disortir dan dicuci menggunakan air mengalir. Sementara ayam yang tidak beku mulai dicuci dan disortir sekitar pukul 16.22 WIB.
Pada proses awal, belum ditemukan perubahan kualitas. Namun, sekitar pukul 02.00 WIB, tim pengolahan menemukan satu baskom ayam yang telah mengalami perubahan bau.
Ayam tersebut dipisahkan dan pengawas gizi menginstruksikan agar tidak digunakan.
Pengecekan kembali dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB terhadap ayam katsu yang telah digoreng.
Dari pemeriksaan itu, ditemukan ayam yang dinilai layak dan tidak layak.
Pemeriksaan lanjutan dilakukan ahli gizi bersama Kepala SPPG sekitar pukul 07.45 WIB saat proses pemorsian.
Sekitar pukul 08.58 WIB, SD Negeri Karangkebagusan menyampaikan keluhan terkait kondisi ayam katsu. SPPG kemudian memutuskan menarik seluruh food tray yang telah didistribusikan.
Selain menarik makanan, pihak SPPG melakukan penelusuran terhadap penerima manfaat yang mengalami keluhan.
Pada pukul 10.18 WIB, siswa dan guru yang mengalami gejala dibawa ke RS PKU Aisyiyah Jepara.
SPPG juga berkoordinasi dengan pihak terkait serta melakukan evaluasi internal terhadap staf dan relawan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kejadian dan mencegah kasus serupa terulang.
Hadi menegaskan, penyebab pasti munculnya gejala pada siswa masih harus dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Sampel makanan dan air telah dikirim untuk uji laboratorium.
“Menu makanan dan sampel air sudah dikirim (uji laboratorium, red),” pungkasnya. (fik)