JEPARA, Radar Kudus – Festival Perang Obor yang jadi puncak acara sedekah bumi Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, digelar kemarin malam (20/5).
Ribuan orang tumplek blek memadati perempatan Desa Tegalsambi. Dalam kegiatan itu, ada 400 obor yang membara saring dipukulkan ke para pemain perang obor yang berjumlah 40 orang.
Sejak pukul 18.30, masyarakat dari berbagai daerah sudah berbondong-bondong datang ke Perempatan Tegalsambi.
Tujuannya, menyaksikan Perang Obor. Padahal, prosesi acaranya baru dimulai sekitar pukul 20.00.
Agenda perang obor ini, rutin digelar setahun sekali setiap Senin Pahing pada bulan Dzulqo’dah atau Bulan Apit.
Perang obor bermula dari legenda Ki Gemblong yang dipercaya oleh Kiai Babadan untuk merawat dan menggembalakan ternaknya.
Namun, karena terlena dengan ikan dan udang di sungai, ternak tersebut terlupakan, sehingga sakit atau mati.
Kiai Babadan yang tidak terima dengan kelalaian Ki Gemblong, memukul Ki Gemblong dengan obor dari pelapah kelapa.
Ki Gemblong pun membela diri dengan memukul balik menggunakan obor.
Tanpa diduga, benturan kedua obor menyebarkan api di tumpukan jerami di sebelah kandang. Ternak yang awalnya sakit tiba-tiba menjadi sembuh.
Baca Juga: Desa Tegalsambi Jepara Kembangkan Seni Tari Perang Obor
Sebelum perang obor dilaksanakan, terlebih dulu dilaksanakan beberapa prosesi upacara adat di kediaman Petinggi atau Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso.
Dilanjutkan dengan kirab pusaka yang dimulai dari rumah petinggi Tegalsambi sampai perempatan Tegalsambi.
Setelah itu, obor pertama disulut api oleh Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta yang ikut serta dalam festival tersebut. Sebagai tanda dimulainya Perang Obor.
Setelah rampung, para pemain perang obor tidak langsung pulang. Mereka berbondong-bondong datang ke rumah petinggi lagi.
Di sana, telah disiapkan obat oles tradisional yang jadi warisan turun-temurun untuk mengobati luka para pemain perang obor.
”Ini puncak acara sedekah bumi. Kami mengawali rangkaian sedekah bumi sejak 35 hari lalu atau pada 15 April lalu,” ungkap Petinggi Desa Tegalsambi Agus Santoso.
Ia menambahkan, dengan digelarnya Perang Obor itu, bermakna sebagai ritual tolak bala dari roh-roh jahat.
Juga ungkapan rasa syukur masyarakat Desa Tegalsambi. Diketahui, sejak 2020 lalu, Perang Obor telah mendapatkan sertifikat sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) dari Kemendikbud Ristek.
”Harapannya, dari tahun ke tahun kami bisa lebih menginspirasi. Bisa memunculkan inovasi-inovasi baru,” imbuhnya. (rom/lin)
Editor : Abdul Rochim