GROBOGAN – Tradisi Merti Deso atau sedekah bumi kembali digelar meriah di Desa Kapung, Kecamatan setempat, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, belum lama ini.
Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati desa untuk mengikuti rangkaian acara yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.
Sejak pagi, masyarakat sudah berkumpul untuk mengikuti salah satu agenda utama yang paling dinanti, yakni arak-arakan gunungan berisi hasil bumi seperti sayur mayur, buah-buahan, hingga uang pecahan.
Baca Juga: 50 Pikap Mahendra Disalurkan untuk Koperasi Desa Merah Putih di Grobogan
Puluhan gunungan dan nasi tumpeng diarak sejauh kurang lebih tiga kilometer menuju sendang desa yang menjadi pusat pelaksanaan doa bersama.
Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias mengenakan pakaian adat sambil membawa hasil bumi dengan penuh semangat.
Suasana berlangsung khidmat sekaligus semarak, mencerminkan kuatnya tradisi gotong royong yang masih terjaga di tengah masyarakat.
Setibanya di sendang desa, seluruh warga mengikuti doa bersama sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dan hasil panen yang melimpah.
Setelah doa selesai dipanjatkan, suasana langsung berubah riuh saat warga berbondong-bbondong mendekati gunungan.
Dalam hitungan detik, gunungan yang sebelumnya tersusun rapi langsung diserbu warga yang ingin mendapatkan bagian dari hasil bumi tersebut.
Mereka percaya siapa pun yang berhasil membawa pulang isi gunungan akan memperoleh keberkahan dan rezeki.
Meski berlangsung dengan suasana rebutan, kegiatan tetap berjalan tertib dan penuh kegembiraan. Teriakan, tawa, dan canda warga menghiasi momen yang selalu menjadi daya tarik utama dalam tradisi tahunan tersebut.
Salah satu warga, Hikmah, mengaku selalu menantikan Merti Deso setiap tahunnya. Selain menjadi bentuk rasa syukur, kegiatan ini juga menjadi hiburan yang dinilai sangat berarti bagi masyarakat desa.
“Saya senang sekali. Selain seru, kalau dapat sayur atau uang dari gunungan bisa membantu kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Titik, warga dari luar daerah yang sengaja datang untuk menyaksikan tradisi tersebut. Ia mengaku terkesan dengan kekompakan warga dan kekayaan budaya yang masih terjaga dengan baik.
“Menarik sekali. Tradisinya masih terjaga dan ramai. Saya jadi ingin datang lagi tahun depan,” katanya.
Baca Juga: LESTARIKAN TRADISI, Warga Medang Grobogan yang Bersykukur dengan Sedekah Bumi di Bledug Kramesan
Kepala Desa Kapung, Musarokah, menjelaskan bahwa Merti Deso merupakan warisan leluhur yang rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi sarana mempererat kerukunan antarwarga.
“Kami ingin menjaga tradisi ini agar tetap lestari. Selain memperkuat kebersamaan, kegiatan ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata desa,” jelasnya.
Menurutnya, kehadiran masyarakat dari luar desa juga menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki daya tarik yang kuat.
Ke depan, tradisi Merti Deso diharapkan tidak hanya menjadi budaya tahunan, tetapi juga berkembang sebagai potensi wisata budaya yang mampu mengangkat nama Desa Kapung lebih luas.
Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan yang terus dijaga, masyarakat berharap nilai-nilai luhur dari tradisi warisan leluhur ini tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (mun)