Nasional Pati Jateng Kudus Grobogan Rembang Blora Sepakbola Olahraga Feature Khazanah Life Style Entertainment Wisata Kuliner Muria Raya Tekno

SOSOK Toni Haryanto, Pewaris Yopia yang Mengabdi Lestarikan Seni Barongsai Lewat Anak-Anak SD di Lasem Rembang

Wisnu Aji • Kamis, 16 Juli 2026 | 12:50 WIB
BERBUDAYA: Toni Haryanto, pegiat budaya barongsai. (WISNU AJI/RADAR PATI)
BERBUDAYA: Toni Haryanto, pegiat budaya barongsai. (WISNU AJI/RADAR PATI)

REMBANG – Di balik kepiawaiannya sebagai generasi keempat pewaris resep kue Yopia khas Lasem, Toni Haryanto memiliki dedikasi besar dalam melestarikan budaya barongsai. 

Mantan atlet barongsai itu kini mengabdikan diri sebagai pelatih ekstrakurikuler di SDN Karangturi, Lasem, dengan mentransfer ilmu kepada para siswa sejak usia dini.

Kecintaan Toni terhadap barongsai tumbuh sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA).

Saat itu ia menempati posisi pemain belakang yang bertugas menopang dan mengangkat pemain depan. 

Baca Juga: Bantuan Perbaikan Rumah Tak Layak di Rembang Terkendala Status Kepemilikan Tanah, Pemkab Rembang Terapkan Solusi Ini

Posisi tersebut membutuhkan kekuatan fisik, keseimbangan, serta kekompakan tinggi agar gerakan barongsai tampak hidup.

Menurut Toni, keberhasilan memainkan barongsai tidak hanya bergantung pada kemampuan fisik, tetapi juga kemauan untuk terus berlatih dan keberanian saat tampil.

"Yang utama harus suka, rajin latihan, dan punya mental. Jangan takut saat bermain di atas tonggak," ujarnya.

Selama menjadi atlet, Toni telah merasakan berbagai pengalaman, mulai dari terjatuh saat latihan hingga mengalami memar akibat benturan dengan tonggak.

Namun, berbagai tantangan itu justru menjadi pelajaran berharga yang membentuk kemampuannya.

Ia juga pernah menorehkan prestasi dengan meraih juara kedua pada ajang Piala Presiden di Jakarta saat membela tim barongsai Tri Murti pada era Presiden Abdurrahman Wahid.

Seiring berjalannya waktu, Toni memilih vakum karena bekerja di luar kota.

Setelah kembali ke Lasem untuk menemani ibunya, Waras (81), ia kembali bersentuhan dengan dunia barongsai setelah Kepala SDN Karangturi memintanya menjadi pelatih ekstrakurikuler.

Permintaan tersebut disambut dengan antusias. Toni pun mulai memperkenalkan barongsai kepada siswa yang sebelumnya belum mengenal seni tersebut.

 Ia mengajarkan teknik dasar secara bertahap, mulai dari pemanasan hingga gerakan dasar.

Latihan digelar dua kali dalam sepekan, setiap Selasa dan Kamis pukul 14.30-15.30 di luar jam pelajaran. Kini kegiatan tersebut telah menjadi ekstrakurikuler resmi di sekolah, bahkan pembinaan dimulai sejak siswa kelas I.

Kesabaran Toni membuahkan hasil. Para siswa kini mampu tampil di berbagai kegiatan, mulai dari pertunjukan di kawasan Tembok Duwur Lasem, acara yang digelar pemerintah, hingga peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Ia menyebut, saat awal dibentuk, ekstrakurikuler barongsai di SDN Karangturi menjadi salah satu yang pertama di Kabupaten Rembang.

Kini, pembinaan terus berlanjut dengan bantuan dua mantan anak didiknya, Dino dan Yoga, yang turut melatih pemain serta permainan tambur sebagai pengatur irama pertunjukan.

Meski tak lagi muda, Toni berharap regenerasi terus berjalan sehingga lahir pemain-pemain barongsai berbakat yang mampu mengharumkan nama daerah sekaligus menjaga kelestarian budaya tradisional tersebut. (noe)

 

 

Editor : Abdul Rochim
Kue Yopia Toni Haryanto Barongsai Lasem SDN Karangturi budaya Rembang