REMBANG – Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi langkah Dwi Laela Ardiyanti untuk meraih cita-citanya.
Anak seorang pedagang sayur dan ikan di pasar itu berhasil menyelesaikan studi di Universitas YPPI Rembang (UYR) dengan predikat cumlaude dan IPK 3,98.
Lulusan Program Studi Manajemen tersebut mempersembahkan gelar sarjananya untuk sang ibu yang selama ini berjuang membesarkannya seorang diri.
Baca Juga: Rembang Terima 13 Truk Foton untuk Operasional KDKMP, Siap Sambut Peluncuran
Baginya, keberhasilan itu merupakan hasil doa dan kerja keras orang tuanya.
Dwi Laela berasal dari Desa Bulumulyo, Kabupaten Pati. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara.
Setelah ayahnya meninggal dunia, dirinya tinggal bersama ibunya dan menjalani kuliah sambil pulang-pergi dari rumah.
“Saya tinggal sama ibu. Kakak sudah berkeluarga. Dulu kuliah sambil ngelaju,” ujarnya usai wisuda.
Perjalanan kuliahnya terbantu melalui Program Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Ia mengaku harus melewati berbagai tahapan seleksi untuk mendapatkan bantuan pendidikan tersebut.
Menurutnya, program beasiswa itu sangat membantu mewujudkan impiannya menjadi sarjana.
Sang ibu pun merasa bangga dan bersyukur karena tidak menyangka anak dari keluarga sederhana bisa menempuh pendidikan tinggi.
“Alhamdulillah ibu hadir dalam wisuda ke-V di Ballroom Hotel Aston Inn Rembang,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Selama kuliah, Dwi Laela aktif mengikuti berbagai organisasi kampus. Ia pernah bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sosial budaya, pena, dan pramuka, hingga menjadi bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) pada 2025.
Selain aktif berorganisasi, ia juga dikenal rajin belajar dan aktif dalam perkuliahan.
Semangat belajar itulah yang mengantarkannya meraih predikat lulusan terbaik.
Setelah resmi menyandang gelar sarjana, Dwi Laela berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarga.
Namun, ia juga masih memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 apabila memperoleh beasiswa.
“Kalau ada beasiswa insyaallah ingin melanjutkan pascasarjana. Kalau tidak memungkinkan langsung bekerja,” ungkapnya.
Baginya, perjalanan kuliah yang penuh perjuangan dan keterbatasan justru menjadi motivasi untuk terus melangkah dan membanggakan keluarga. (noe)