RADAR PATI- Sebagai Duta Genre Kabupaten Kudus 2025, Juliana hadir bukan sekadar membawa gelar, tetapi membawa suara anak muda yang memilih peduli pada masa depan generasinya.
Lahir di Grobogan, 8 Juli 2006, Juliana kini menjalani peran ganda sebagai mahasiswi semester 5 Program Studi Manajemen Bisnis Syariah UIN Sunan Kudus dan figur muda yang aktif bergerak di ruang sosial.
Dua dunia itu berjalan beriringan—kampus membentuk cara berpikirnya, dunia Genre membentuk kepekaannya.
Ketertarikannya pada dunia Genre berawal dari kegelisahan sederhana. Ia melihat banyak isu remaja yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi sering dianggap sepele.
“Aku melihat banyak masalah remaja yang sebenarnya dekat banget dengan kehidupan kita, tapi sering dianggap biasa. Dari situ aku ingin ikut terlibat langsung, bukan cuma tahu, tapi juga bergerak,” kata Juliana.
Isu-isu seperti perencanaan kehidupan berkeluarga, kesehatan reproduksi, hingga penguatan karakter generasi muda menjadi fokus perhatiannya. Baginya, isu-isu itu bukan sekadar materi sosialisasi, tetapi fondasi masa depan remaja.
Sebagai Duta Genre, Juliana aktif terlibat dalam sosialisasi dan diskusi di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Ia turun langsung bertemu remaja, membuka ruang dialog, dan membangun komunikasi yang setara.
“Aku lebih ingin datang sebagai teman sebaya, bukan sebagai orang yang menggurui. Biar mereka nyaman cerita, diskusi, dan berpikir bareng tentang masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman paling berkesan justru lahir dari interaksi langsung dengan para remaja.
“Yang paling berharga itu ketika bisa berinteraksi langsung. Bisa dengar cerita mereka, keresahan mereka, dan lihat bagaimana mereka mulai berani mikir soal masa depan hidupnya sendiri,” tambahnya.
Di luar dunia aktivisme sosial, Juliana juga mengembangkan diri di dunia kreatif. Ia aktif di bidang modeling, salah satunya saat dipercaya menjadi model dalam Grobogan Expo 2025 bersama brand Arti Setiti.
Pengalaman itu menjadi ruang belajar membangun kepercayaan diri dan mental.
“Modeling ngajarin aku buat lebih percaya diri, lebih berani tampil, dan lebih kenal potensi diri sendiri,” ungkapnya.
Menariknya, dua dunia itu tidak saling bertabrakan. Aktivisme membentuk empati, modeling membangun percaya diri. Satu menguatkan kepedulian, yang lain mengasah keberanian.
Sebagai mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah UIN Sunan Kudus, Juliana tetap menjalani kehidupan kampus seperti mahasiswa pada umumnya—kuliah, tugas, diskusi, dan aktivitas akademik. Ia memilih berjalan seimbang antara akademik, sosial, dan pengembangan diri.
“Aku ingin tetap jadi mahasiswa yang fokus kuliah, tapi juga tetap bisa bermanfaat buat lingkungan sekitar,” katanya.
Bagi Juliana, menjadi anak muda bukan hanya soal menikmati masa muda, tetapi juga tentang mempersiapkan masa depan.
“Menurutku, anak muda itu bukan cuma soal gaya hidup, tapi soal tanggung jawab juga. Kita ini generasi yang nanti pegang masa depan,” tegasnya.
Di tengah generasi muda yang sering dicap apatis, Juliana justru menunjukkan wajah lain. Anak muda yang sadar, peduli, dan mau terlibat. Langkahnya mungkin sederhana, tapi konsisten. (int)
Editor : Abdul Rochim