RADARPATI.ID - Berbekal pengalamannya menjadi guru TK selama sembilan tahun.
Menjadikan Yayang Dini Nur Frihartini tertarik masuk ke dunia anak lebih dalam dengan menjadi pendongeng.
Tujuannya agar anak-anak dapat menyerap nilai kebaikan lewat kisah menarik tanpa merasa digurui.
Hampir 12 tahun Yayang Dini Nur Frihartini setia mendongeng.
Demi kelancaran menuturkan cerita pada anak-anak, bahkan dia rela berhenti menjadi guru.
Semangat untuk bisa lihai mendongeng pun di tekadkan, meski harus beberapa kali mengikuti les mendongeng di daerah Grobogan hingga ke Jogjakarta.
Bahkan peserta kelas mendongeng pun selalu berubah dan berganti setiap pertemuan.
Meski begitu tak menyurutkan niatnya, malah baginya itu kesempatan emas untuk memperdalam pengalaman mendongeng.
Karena ia bisa banyak bertanya kepada pelatih dan fokus.
Mulailah pada 2013, Yayang bersama pendongeng Grobogan lainnya membentuk Ikatan Pencerita Anak Muslim (IPAM).
Kelompok ini membiasakan anak-anak gemar membaca dan mendengarkan dongeng.
Inisiatif Yayang membentuk IPAM melalui parade cerita, karena prihatin dengan minat anak-anak untuk membaca yang masih rendah.
“Di sinilah saya mulai banyak tawaran mendongeng sendiri maupun bersama teman-teman,” jelas perempuan yang kini tinggal di Jalan Soponyono 6, Jetis, Purwodadi ini.
Kini hampir setiap pekan, Yayang selalu menyempatkan diri untuk mendongeng.
Anak-anak yang terbaring sakit di RS, tempat pengungsian banjir, sekolah, panti asuhan, perpustakaan, CFD, Paud, TK di Grobogan hingga ke luar kota seperti Kudus, Jepara dan Semarang.
Tak jarang ia pun mendongeng secara Cuma-Cuma.
“Lebih sering diundang digiat sosial dan sukarela, jadi kerap tidak pasang tarif. Saya juga kerap mengisi di sekolah yang ada di pelosok desa, mereka ingin sekali didatangi namun minim budget. Namun kalau pengundang punya budget ya ada tarifnya. Namun bayaran paling besar adalah senyum dan tawa anak-anak,” ungkapannya.
Baca Juga: Retreat Kepala Daerah di Magelang : Bupati Jepara Terpilih Witiarso Utomo Berangkat Sendiri, Isi Persiapan dengan Perbanyak Olahraga
Anak ke satu dari dua bersaudara ini mengungkapkan selama mendongeng ia selalu mendapatkan antusias baik dari anak-anak.
“Setiap pertemuan mereka selalu tertarik, malah sampai lupa waktu. Kalau anak-anak semakin asyik menikmati, malah saya semakin mudah melontarkan candaan,” kesannya.
Setelah kerap mengisi dongeng, kini ia sudah lihai mendongeng dengan membawakan beberapa karakter buatan timnya.
“Kini kami sudah memakai opret boneka dengan empat karakter andalan, antaranya Dondong, Cenul, Si Moli dan Grobi. Kami membuat karakter sendiri, dimana setiap boneka memiliki beda karakter dan sikap,” katanya.
Baca Juga: Perangkat Desa Langse di Pati Korupsi Dana Desa Sebesar Rp 355 Juta, Alasan Korupsi Bikin Geleng-Geleng
Empat boneka dengan karakter berbeda juga sangat ditonjolkan saat mendongeng.
Terpenting adalah pesan moral di setiap penyampaiannya. Sehingga ia selalu membawakan cerita sederhana, ringan agar mudah ditangkap anak-anak.
Dia merasakan manfaat mendongeng amat besar. Suri teladan dapat terpatri dalam sanubari anak-anak, tanpa melalui ceramah yang menjemukan.
Membuang sampah di tempatnya, sopan santun, persahabatan tulus, akhlak terpuji, dan pelajaran sekolah, semua itu bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
“Empat karakter ini pun sangat sederhana. Karena terpenting kami menonjolkan kekuatan ceritanya. Karena anak-anak butuh cerita yang bermakna. Ingatan anak-anak akan lebih panjang apabila penyampaian cerita melalui dongeng,” imbuhnya.
Baca Juga: Pohon Tumbang di Jalan Lingkar Selatan Pati Akibat Angin Kencang, Arus Lalu Lintas Sempat Terhambat
Meski tak menentukan tema di setiap penampilannya, tak jarang ia juga kerap diminta mengisi sesuai tema yang diinginkan pengundang.
“Ada yang sesuai permintaan, tergantung kegiatan yang mengundang apa dan siapa, nanti disesuaikan. Kalau di sekolah ya tema sekolahan. Terpenting isinya memberikan pesan moral,” paparnya.
Selama mendongeng, Yayang punya banyak pengalaman berkesan dan menarik.
Pernah, saat ia mengisi dongeng di PAUD malah banyak anak yang takut dengan boneka.
Satu anak menangis, yang lainnya ikut nangis semua.
“Namun meski mereka takut, sebenarnya mereka penasaran. Ya saya tetap teruskan mendongeng dan mengeluarkan boneka. Meski mereka sambil menutup muka dengan tangan, namun mereka juga kerap mengintip-ngintip di balik tangannya,” kesannya.
Baca Juga: Rembang Usulkan TK Desa Menjadi Sekolah Negeri untuk Tingkatkan Fasilitas
Baginya ia sangat diuntungkan dengan basik mengajar yang dimilikinya. Karena ia menjadi mengerti bagaimana harus bersikap terhadap anak. Mengetahui karakter anak.
“Penguasaan panggung memang sudah dapat. Namun ada yang dirasa susah, yakni melatih suara. Saya butuh waktu hampir setahun yang untuk bisa melatih berbagai macam suara. Kini saya sudah bisa mempraktikan sebanyak tujuh karakter suara yang berbeda,” paparnya. (*)