Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Lebih Dekat Nafi’ah, Seorang Guru Randublatung Blora yang Termotivasi Mengajar Siswa Disabilitas setelah Dengar Kata-Kata Ibunya

Arif Fakhrian Khalim • Senin, 25 November 2024 | 14:32 WIB

 

BERSEMANGAT: Nafi’ah guru SLB Negeri Randublatung yang sedang mengajak anak-anak SLB bermain di sawah. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADARPATI)
BERSEMANGAT: Nafi’ah guru SLB Negeri Randublatung yang sedang mengajak anak-anak SLB bermain di sawah. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADARPATI)

 

Menjadi guru termuda di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Randublatung membuat Nafi’ah makin bersyukur.

Dia bisa mengajar anak-anak yang memiliki keistimewaan dibandingkan siswa normal.

ARIF FAKHRIAN KHALIM, BLORA, RadarPati.ID

Baca Juga: Berprestasi jadi Guru Musik di Grobogan, Trie Koent Serahkan Puluhan Gitar di Studio Sekolah

MENJADI guru sekolah luar biasa (SLB) jadi tantangan bagi Nafi’ah.

Mahasiswi lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo jurusan Pendidikan Agama Islam itu mengaku termotivasi oleh tingkah laku anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan ilmu yang setara dengan anak normal pada umumnya.

Perempuan asal Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan tersebut sudah bergelut dengan anak-anak berkebutuhan khusus sejak 2021 lalu atau setelah lulus kuliah.

Awalnya, ia mendapatkan informasi adanya lowongan untuk guru agama di SLB Negeri Randublatung.

Selang beberapa hari, ia dinyatakan diterima sebagai guru agama di SLB tersebut.

Ia sempat ragu dan tidak ingin berangkat mengajar di hari pertamanya.

Jiwa lulusan baru dan umurnya kala itu masih 23 tahun membuat keraguannya muncul terus-menerus.

Ditambah, ia takut mendapat omongan kalau mengajar di SLB dan menjadi guru dari anak berkebutuhan khusus itu hal cukup aneh.

“Sempat nggak mau berangkat di hati pertama. Kesannya tak remehkan gitu. Ditambah nanti kalau benar jadi guru itu pasti banyak omongan kalau ngajar anak kekurangan yang nangisan dan umbelan,” ucapnya.

Namun atas dorongan orang tua akhirnya ia mantap untuk terjun mengajar. Pesan dari orang tua saat itu ketika mengajar di SLB diniatkan untuk ibadah.

Ibunya juga berpesan jika di akhirat kelak anak-anak berkebutuhan khusus masuk surga itu akan jadi penolong.

’’Dimotivasi orang tua, Kalau semua minta mengajar anak normal, terus yang mengajar anak berkebutuhan khusus siapa?” ujarnya seperti menirukan nasihat ibunya.

Perempuan kelahiran 1999 itu mulai menggeluti dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus dengan terus mempelajari tingkah laku anak dari waktu ke waktu.

Tak hanya menjadi guru agama, ia juga merangkap menjadi guru kelas akibat kurangnya guru di SLB.

Tentu butuh effort yang lebih dibanding mengajar anak-anak biasa. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri baginya.

Namun, melihat kondisi mereka, ia diajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang dikasih oleh Allah.

”Harus lebih effort untuk membangkitkan minat mereka untuk belajar,” ucapnya.

Dengan mengajar anak-anak SLB, dirinya seperti mendapat kekuatan kembali saat sedang merasa lelah. Baginya anak-anak luar biasa tersebut punya potensi terpendam.

Saat ini ia merasa berada di zona nyaman dalam mengajar. Rasa gelisah dan takut yang ia rasakan dulu serasa hilang.

Bahkan, ia merasa dengan bertemu anak-anak di SLB itu seakan membangkitkan tenaga dan suasana hati untuk lebih bersemangat lagi menjalani hidup.

“Saya termotivasi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa khususnya Blora. Dengan mewujudkan pemerataan pendidikan. Anak-anak SLB bukan untuk dikasihani, tapi dihargai, Karena mereka mempunyai potensi yang luar biasa yang orang lain tidak ketahui,” jelasnya.

Saat ini bagi Nafi’ah, mengajar anak-anak SLB merupakan kegiatan yang menyenangkan. Selain membangkitkan rasa bahagianya juga melatih kesabaran.

”Dengan kehadiran anak tersebut kita dibuat tersenyum dengan tingkah jenaka dan itu semua meningkatkan rasa syukur dan menambah sabar saya,” ucap guru di SLBN Randublatung tersebut

Menurutnya, mengajar anak SLB tidak ada sedihnya, selalu dibuat tertawa.

Tingkah laku anak-anak mereka membuat dirinya merasa mengajar mereka seperti mengasuh anak. (*/zen)

 

 

Editor : Abdul Rochim
#ponorogo #SLBN #IAIN #randublatung #blora #siswa berkebutuhan khusus