Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Suluk Maleman Edisi ke-153 : Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah dalam Perspektif Kasih Sayang

Achmad Ulil Albab • Rabu, 25 September 2024 | 01:24 WIB
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin. (DOK. RADAR KUDUS)
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin. (DOK. RADAR KUDUS)

 


PATI, RADARPATI.ID - Tema "Darurat Kasih Sayang" diangkat dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 pada Sabtu (21/9) malam, sebagai respons terhadap kondisi kehidupan bangsa yang semakin kompleks.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas acara ini, menekankan pentingnya meneladani sifat kasih sayang Nabi Muhammad, terutama di bulan kelahiran beliau.

Menurutnya, kasih sayang adalah inti kemanusiaan yang kian terabaikan, dan ketika kasih sayang hilang, manusia bisa jatuh ke derajat terendah.

Anis memberi contoh krisis kemanusiaan di Palestina sebagai salah satu bukti nyata.

Ia mengkritisi bahwa manusia sering kali menciptakan alasan untuk membenarkan tindakan kejahatan, walaupun hati nurani sebenarnya sadar akan kesalahan tersebut.

Kepekaan nurani, kata Anis, kini mulai terkikis.

Dalam penjelasannya, Anis membagi manusia menjadi dua kategori: manusia penetap dan manusia penyinggah.

Manusia penetap melihat kehidupannya di dunia sebagai sesuatu yang tetap, sementara manusia penyinggah memandang dunia hanya sebagai tempat singgah sementara.

Cara pandang ini, menurut Anis, berdampak besar pada sikap manusia terhadap dunia.

Jika dunia dianggap hanya sebagai tempat singgah, manusia akan cenderung tidak terobsesi dengan hal-hal duniawi.

Sebaliknya, manusia penetap yang menganggap dirinya pemilik dunia akan dikuasai ego dan keinginan untuk memiliki segalanya, yang kemudian melahirkan kebencian dan konflik, baik di tingkat individu, sosial, maupun negara.

Ia juga mencatat bahwa penolakan terhadap para nabi di masa lalu, seperti Nabi Isa dan Nabi Muhammad, seringkali disebabkan oleh kekhawatiran para elite sosial kehilangan kekuasaan mereka.

Ego sosial menjadi penghalang untuk menerima kebenaran yang dibawa para nabi, seperti yang terjadi pada elite Quraisy yang menawarkan kompromi absurd: sehari menyembah Allah, sehari menyembah berhala.

Anis juga menyinggung dampak negatif media sosial, di mana orang bisa saling membenci dan memusuhi meski tidak pernah bertemu.

Menurutnya, salah satu cara terbaik untuk menghindari kebencian ini adalah dengan tidak terlibat dalam perdebatan yang tidak perlu, terutama jika kita yakin akan kebenarannya.

Anis mengingatkan bahwa segala tindakan akan dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun akhirat.

Ia juga menyatakan keheranannya tentang perubahan karakter bangsa Indonesia yang dahulu dikenal ramah, kini berubah menjadi pemarah di media sosial.

Mengutip Pembukaan UUD 1945, Anis menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat rahmat Allah, yang berarti kasih sayang.

Jika bangsa ini terus dipenuhi kemarahan, rahmat tersebut akan hilang, dan akibatnya sulit diprediksi dalam beberapa tahun ke depan. (aua)

 

Editor : Achmad Ulil Albab
#Anis Sholeh Ba’asyin #kasih sayang #manusia #Ngaji Budaya Suluk Maleman #suluk maleman