Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Sosok Raden Patah, Pendiri Kerajaan Demak Bintara yang Juga Anak dari Prabu Brawijaya V, Salah Satu Raja Kerajaan Majapahit

Noor Syafaatul Udhma • Kamis, 5 September 2024 | 19:13 WIB
Raden Patah, Pendiri Kesultanan Demak Bintoro
Raden Patah, Pendiri Kesultanan Demak Bintoro

RADAR PATI – Sosok Raden Patah sangat familiar di daerah Pati Raya. Sosoknya dikenal kharismatik dan ahli ilmu, khususnya agama Islam. Ketenarannya tidak hanya di daerah Jawa, tetapi hingga luar Jawa. Tak heran makamnya selalu padat diziarahi para peziarah dari nusantara.

Tak disangka, sosok pendiri Karajaan Demak Bintoro itu sekaligus Raja Pertama Kerajaan Demak Bintoro ternyata anak dari Prabu Brawijaya V yang melarang warga Cepu Blora mendaki Gunung Lawu.

Prabu Brawijaya V konon merupakan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit. Ada pula yang percaya Prabu Brawijaya V bukan raja terakhir.

Menurut sejarah, Prabu Brawijaya V memimpin Kerajaan Majapahit pada 1968 hingga 1978 atau selama 10 tahun.

Sosok yang memiliki nama Bhre Kertabumi inilah yang melarang warga Cepu Blora dan Bojonegoro atau keturunan Adipati Cepu untuk mendaki Gunung Lawu.

Dikisahkan, saat itu Prabu Brawijaya V sedang melarikan diri ke Gunung Lawu.

Saat pelarian tersebut, Prabu Brawijaya V dan pengikutnya diikuti oleh pasukan dari Adipati Cepu hingga sampai ke puncak tertinggi Gunung Lawu.

Prabu Brawijaya V pun murka dan mengeluakan sumpahnya.

Sumpahnya itu berupa larangan warga Cepu Blora dan Bojonegoro atau keturunan Adipati Cepu mendaki Gunung Lawu.

Bila larangan itu dilanggar, orang Cepu Blora yang mendaki akan mengalami nasib buruk atau celaka.

Sosok Prabu Brawijaya V atau Bhre Kertabumi inilah ayah kandung dari Raden Patah, pendiri Kerajana Demak atau Kesultanan Demam Bintoro.

Profil Raden Patah

Raden Patah diketahui lahir pada 1455 di Palembang. Dia merupakan putra dari Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit dengan seorang selir dari China bernama Siu Ban Ci.

Siu Ban Ci merupakan putri saudagar sekaligus ulama Syaih Bantong atau Syeh Bentong alias Tan Go Hwat.

Suatu hari, Siu Ban Ci hamil tua. Permaisuri Prabu Barwijaya V yakni Ratu Darawati yang merupakan seorang putri Campa cemburu.

Kecemburuan ini membuat selir diceraikan dan dihadiahkan kepada Arya Damar atau Jaka Dilah atau Swan Liong, seorang pemimpin legendaris keturunan Tiongoa yang berkuasa di Palembang pada pertenganan  abad 14 yang masih menjadi wilayah Kerajaan Majapahit.

Kala itu Siu Ban Ci akhinya dinikahi Arya Damar hingga Raden Patah di Palembang.

Dari hasil pernikahan Siu Ban Ci dan Arya Damar lahirlah Raden Kusen yang menjadi adik tiri Raden Patah.

Dari pernikahan Siu Ban Ci dan Arya Damar, Raden Patah memiliki adik tiri bernama Raden Kusen.

Pada awal abad ke-14, Kaisar Yan Lu dari Dinasti Ming mengirimkan seorang putri kepada Raja Brawijaya V ke Kerajaan Majapahit sebagai tanda persahabatan kedua negara.

Putri tersebut sangat cantik dan pintar sehingga mendapatkan perhatian khusus Raja Brawijaya V.

Namun kehadiran putri tersebut membuat Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa cemburu.

 

Kecemburuan itu menjadi-jadi hingga Prabu Brawijaya V menyingkirkan putri tersebut dari istana.

Putri tersebut yakni Siu Ban Ci, ibu dari Raden Patah.

Berdasarkan Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik sampai Kontemporer dijelaskan bawah Raden Patah dikenal dengan nama Pangerab Jimbun.

Namun dari buku Jejak Islam di Nusantara, Raden Patah dikenal dengan sebutan Jin Bun.

Arya Damar diketahui telah masuk Islam. Tak heran Raden Patah lahir dan dibesarkan di lingkungan keraton Palembang dan dididik secara Islam.

Dalam asuhan Arya Damar, Raden Patah menjadi pemeluk agama Islam yang kuat.

Pada usia 20 tahun, Raden Patah berlayar ke Gresik untuk menemui ayahnya Prabu Barwijaya V yang melarang warga Cepu Blora dan Bojonegoro khususnya keturunan Adipati Cepu untuk mendaki Gunung Lawu yang ada di perbatasan anatara Karanganyar Jawa Tengah dengan Magetan Jawa Timur.

Setibanya di Tuban, Raden Patah berguru kepada Raden Rahmat atau yang dikenal sebagai Sunan Ampel.

Di sana Raden Patah mendapat dukungan dari utusan kaisar China yakni Laksamana Cheng Ho.

Tak hanya itu, Raden Patah juga belajar agama Islam bersama Sunan Giri, Gunan Bonang, dan Sunan Drajat.

Mendirikan Madrasah hingga Menjadi Raja di Kesultanan Demak

Pada 1475, Raden Patah mulai membangun madrasah dan pondok pesantren sesuai dengan arahan gurunya.

Nama Raden Patah semakin dikenal dan pondok pesantren yang didirikannya semakian ramai hingga menjadi pusat ilmu pengetahuan, agama, sekaligus perdagangan.

Akhirnya pondok pesantren yang didirikan oleh Raden Patah menjadi Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak

Tahun 1475 M, dia mulai melaksanakan perintah gurunya dengan jalan membuka madrasah atau pondok pesantren di daerah itu untuk menyiarkan agama Islam.

Pondok pesatren yang didikan oleh Raden Patah semakin maju dan kuat, para Wali Songo pun mendesak Raden Patah segera diangkat menjadi raja Demak.

Namun Sunan Ampel sebagai guru spiritual Raden Patah sekaligus sunan yang paling dituakan tidak mau terburu-buru.

Sunan Ampel berpendapat bahwa Kerajaan Majapahit masih diperintah oleh ayah kandung Raden Patah yakni Prabu Brawijaya V.

Menurut Sunan Ampel tidak baik seorang anak berbuat makar terhadap ayahnya sendiri.

Kendati demikian, Sunan Ampel sudah memperkirakan bahwa Majapahit akan runtuh dengan sendirinya di tengah gejolak internal di istana kerajaan.

Perkiraan Sunan Ampel tepat.

Kerajaan Majapahit bubar setelah digempur oleh Kerajaan kediri.

Dalam serangan itu, konon Prabu Barwijaya V gugur lalu digantikan oleh Girindawardhana Dyah Ranawijaya.  

Saat Majapahit dipimpin Girindrawardhana, Sunan Ampel lalu mengangkat Raden Patah menajdi raja pertama Kesultanan Demak.

Raden Patah diberi gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panambahan Palembang Sayidin Panatagama.

Untuk gelar yang diperoleh Raden Patah setelah menjadi raja Kerajaan Demak yakni Sultan Alam Akbar Al-Fatah.

Dalam buku Demak Bintoro Kerajaan Islam Pertama yang ditulis oleh F Taufiq El Jauquene, nama Raden Patah diambil dari gelarnya Al Fatah yang berarti Sang Pembuka.

Sebab dalam sejarah Islam di Nusantara dinobatkan menjadi seorang pembuka kerjaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Raden Patah menjabat sejak 1500 hingga 1518.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Raden patah dibantu Wali Songo hingga Kerajaan Demak menjadi kerajaan Islam ternama.

Kekuasaan Raden Patah semakin luar.

Daerah di bawah Kesultanan Demak meliputi Demak, Pati, Rembang, Jepara, Semarang, Selat Karimata, hingga daerah Kalimantan.

Raden Patah Membangun Masjid Agung Demak

Tak hanya mendirikan madrasah dan pondok pesantren, Raden Patah juga mendirikan Masjid Agung Demak yang menjadi tempat berkumpulnya ulama Nusantara.

Masjid ini menjadi lambang kebesaran Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam di Jawa.

Istimewanya, salah satu tiang masjid ini dibuat dari kumpulan sisa kayu pembangunan masjid yang disatukan.

Selama menjadi raja, kehidupan masyarakat kesultanan Demak berjalan sesuai hukum Islam. Namun tradisi lama tidak ditinggalkan.

Setelah Sunan Ampel wafat, Raden Patah dibantu oleh laskar-laskar pesisir uatara Jawa memimpin serangan menggempur Majapahit hingga hancur.

Keruntuannya disimbolkan dalam candrasengkala sirna ilang keraning bhumi.

Sisa-sisa pengikut Girindrawardhana di Majapahit melarikan diri ke Blambangan, Tengger, Bali hingga Mataram.

Raden Patah Meninggal Dunia

Raden diketahui memiliki tiga istri yakni Solekha dari Malokha, putri Sunan Ampel, Randu Singa, dan Putri Dipati Jipang.

Dari ketiga istri, Raden Patah memiliki 5 anak yakni Pati Unus, Raden trenggorno, raden Kanduruwan, Raden Kikin, dan ratu Nyawa.

Raden Patah diketahui meninggal dunia pada 1518 M di Demak. Kesultanan Demak kemudian dipimpin oleh putra Raden Patah yakni Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor selama tiga tahun saja, pada 1518-1521 M.

Pati Unus kemudian digantikan oleh adiknya bernama Sultan Trenggana.

Peran Raden Patah

Dalam buku Runtihnya Kerajaan Hindu Jawa dan timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (2007), Raden Patah berhasil memperluas dan mempertahankan Kerajaan Majapahit.

Berikut Peran Raden Patah

  1. Raden Patah berhasil menaklukkan Girindrawardhana yang merebut tahta Majapahit hingga mengambil alih Kekuasaan Majapahit.
  2. Raden Patah mengadakan peralwanan terhadap Portugis yang telah menduduki dan mengganggu Demak. Raden Patah lantas mengutus putranya Pati Unus untuk melawan perlawanan meski akhirnya gagal
  3. Raden Patah mencoba menerapkan hukum Islam

Itulah profil Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak sekaligus anak dari Prabu Brawijaya V yang melarang orang Cepu Blora dan Bojonegoro khusus keturunan Adipati Cepu mendaki Gunung Lawu.

Brompton M6L
Brompton M6L
Dahon Mariner D8
Dahon Mariner D8
Tern Link C8
Tern Link C8
Pacific Noris
Pacific Noris
Polygon Urbano 3
Polygon Urbano 3
United Trifold 8S
United Trifold 8S
Xiaomi QiCycle
Xiaomi QiCycle
Editor : Noor Syafaatul Udhma
#majapahit #Brawijaya #demak #kerajaan majapahit #Cepu Blora #Kerajaan Demak #blora #Prabu Brawijaya V