Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Camat Bogorejo Blora Gelontorkan Ratusan Juta, Bangun Sumur Kedalaman Ratusan Meter

Arif Fakhrian Khalim • Minggu, 1 September 2024 | 12:00 WIB
TERBANTUKAN: Warga Kelurahan Jurangjero, Kecamatan Bogorejo mengambil air dari penampungan air sumur. ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS
TERBANTUKAN: Warga Kelurahan Jurangjero, Kecamatan Bogorejo mengambil air dari penampungan air sumur. ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS

BLORA, RADARPATI.ID - Berdasarkan data wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Blora. Kecamatan Bogorejo menjadi wilayah nomor enam terparah terdampak kekeringan.

Namun, data tersebut terbilang menurun dari tahun lalu dan hanya lima desa yang terdampak dari 14 desa yang ada di Kecamatan Bogorejo.

Camat Bogorejo Ruswanto mengatakan, data yang diambil oleh Kasi Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Bogorejo sudah disetorkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora Juli lalu.

Tercatat, sebanyak lima desa mengalami kekeringan dan sembilan desa nihil kekeringan.

"Desa Prantaan, Tempurejo, Jeruk, Bogorejo, dan Gandu ini dari 2023 berpotensi mengalami kekeringan air. Sedangkan sembilan desa lainnya sampai saat ini kami belum menerima laporan kekeringan," ujarnya.

Ia mengaku, hanya ada satu desa yang tahun lalu mengalami kekeringan dan tahun ini tidak mengalami kekeringan.

"Hanya Kelurahan Jurangjero yang sudah tidak masuk dalam data kekeringan untuk tahun ini. Lurah setempat sudah menggunakan dana desa untuk membangun bak penampungan untuk dimanfaatkan oleh warga desa setempat. Jadi, warga tidak terlalu mengandalkan droping air dari BPBD," ujarnya.

Lurah Jurangjero Suwoto menjelaskan, saat ini warganya mulai terbantu dengan adanya bak penampungan air sumur yang dibangun dari anggaran dana desa.

Sebanyak 400 kepala keluarga (KK) di Dukuh Kembang dan sekitarnya memanfaatkan air tersebut.

"Dulunya sebelum ada bak penampungan air ini warga harus ambil air di sumur yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari pemukiman warga. Ditambah airnya tidak bersih dan berlumpur. Untuk dikonsumsi warga itu tidak layak,"ujarnya.

Ia kemudian memanfaatkan dana desa untuk dilakukan pengeboran sedalam 103 meter dan dibuatkan bak penampungan.

Anggaran dana desa yang dikeluarkan untuk pembuatan bak penampungan itu senilai Rp 100 juta.

"Alhamdulillah dengan adanya bak penampungan ini, warga tidak lagi mengambil air ke sumur yang jaraknya jauh. Mereka hanya perlu mengantre dan membawa jirigen masing-masing," ucapnya.

Ia menjelaskan, saat sebelum dibangunnya bak penampungan air sumur ini warga sangat mengandalkan droping air.

Dalam satu hari bisa enam tangki datang untuk melakukan droping air.

"Setelah adanya penampungan air sumur ini, warga hanya perlu membayar seikhlasnya untuk membayar listrik sumur bor. Ditambah setiap warga dibebaskan untuk mengambil air kapan pun untuk kebutuhan rumah," jelasnya. (ari)

Editor : Abdul Rochim
#penampungan air #sumur #Bogorejo #kekeringan #blora #BPBD