
RADARPATI.JAWAPOS.COM - Potensi ancaman kebencanaan dari zona subduksi megathrust di wilayah Indonesia kembali menjadi sorotan ilmiah.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, jumlah segmen megathrust yang berpotensi memicu kerusakan dahsyat kini tercatat sebanyak 14 segmen.
Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan dokumen Peta Gempa 2017 yang mencatat 13 segmen dan Peta Gempa 2010 yang merekam 11 segmen.
Baca Juga: Jika Megathrust Pecah, Tsunami Puluhan Meter Siap Menggulung
Pemutakhiran data ini dirumuskan oleh tim ahli lintas lembaga berdasarkan evaluasi komprehensif serta akumulasi publikasi ilmiah sepanjang periode 2017 hingga 2024.
Dari total 14 segmen yang teridentifikasi, 11 segmen berada langsung di dalam batas teritorial Indonesia, sementara 3 segmen lainnya berlokasi di wilayah Filipina namun diproyeksikan memiliki jangkauan dampak signifikan hingga ke wilayah kepulauan Indonesia bagian utara.
"Pembaruan segmentasi sumber gempa megathrust ini mencakup penambahan segmen baru, penghapusan, hingga revisi magnitudo maksimum berdasarkan evaluasi data seismik serta dinamika pergerakan lempeng terbaru," tulis tim penyusun dalam dokumen Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.
Penambahan Segmen Asing dan Peningkatan Skala Magnitudo
Salah satu pembaruan krusial dalam dokumen tahun 2024 adalah dimasukkannya Megathrust Palung Cotabato yang memiliki estimasi potensi kekuatan hingga Magnitudo (M) 8,3.
Meski secara administratif berada di perairan Filipina, posisinya yang berdekatan dengan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, membuat segmen ini dikategori sebagai salah satu sumber ancaman bencana luar wilayah (transboundary hazard) bagi Indonesia.
Selain penambahan segmen, sebanyak 7 segmen megathrust mengalami revisi kenaikan estimasi magnitudo maksimum akibat temuan data historis dan pengamatan geodesi yang lebih detail.
Di antaranya, Megathrust Mentawai-Pagai mencatatkan lonjakan proyeksi kekuatan dari M8,5 pada peta 2017 menjadi M8,9 pada peta 2024. Hal serupa terjadi pada Megathrust Sulawesi Utara yang diproyeksikan melonjak dari skala M7,9 menjadi M8,5.



