Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak Krakatau Erupsi, Megathrust Selat Sunda Semakin Perlu Diwaspadai

Z
Penulis: Zakarias Fariury❯
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

Advertisement

RADARPAT.JAWAPOS.COM - Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi beriringan dengan serangkaian gempa kerak dangkal di Jawa Barat kembali mengarahkan perhatian publik pada kompleksitas tatanan tektonik Indonesia.

Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat adanya perluasan pemetaan hingga 14 titik zona megathrust, dengan fokus perhatian utama pada area seismic gap di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

Kendati fenomena erupsi vulkanik dan guncangan tektonik sering terjadi dalam kurun waktu berdekatan, para pakar mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Pemahaman berbasis data ilmiah sangat diperlukan agar publik terhindar dari kepanikan maupun narasi penyesatan (fear mongering).

Kompleksitas Ancaman Tektonik: Megathrust vs Sesar Aktif Darat

Kawasan Jakarta, Banten, dan Jawa Barat berdiri di atas zona transisi tektonik yang sangat aktif akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa kawasan ini diapit oleh dua bentuk ancaman seismik dengan karakteristik berbeda:

Advertisement

Gempa Megathrust (Lepas Pantai): Berada di zona subduksi dangkal lepas pantai selatan Jawa dan Selat Sunda. Zona ini menyimpan akumulasi energi yang berpotensi melepaskan gempa interaksi antar-lempeng (interplate) hingga magnitudo M8,7–M9,1 yang berisiko memicu gelombang tsunami.

Gempa Kerak Dangkal / Sesar Aktif (Daratan): Dipicu oleh jaringan patahan di daratan seperti Sesar Lembang, Sesar Baribis, Sesar Cimandiri, Sesar Cugenang, dan Sesar Garsela. Walau magnitudonya berada di skala menengah (M5,0–M6,5), gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dapat menghasilkan guncangan kuat (high peak ground acceleration) yang berdampak merusak pada kawasan padat penduduk.

Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi segmen Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai area seismic gap. Istilah seismic gap menggambarkan zona tektonik aktif yang sudah lama tidak melepaskan gempa berskala besar (Selat Sunda terakhir tercatat pada 1757, sedangkan Mentawai-Siberut pada 1797).

BMKG menegaskan bahwa status seismic gap merujuk pada akumulasi energi tektonik yang masih tersimpan, bukan prediksi bahwa gempa raksasa dipastikan meletus dalam waktu dekat. Hingga saat ini, belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi hari, jam, dan lokasi pasti terjadinya gempa bumi.

Proyeksi Magnitudo Maksimum ($M_{max}$) di Segmen Utama

Berdasarkan data pemutakhiran Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dan BMKG, berikut adalah rincian proyeksi magnitudo maksimum di sejumlah segmen megathrust utama:

Segmen Aceh – Andaman (Utara Sumatra)

Advertisement

Artikel Terkait

Banyak Gunung Erupsi dan Gempa, Tanda Megathrust? Cek 14 Zona-nya

Banyak Gunung Erupsi dan Gempa, Tanda Megathrust? Cek 14 Zona-nya

Indonesia kembali memperbarui peta risiko kegempaan nasional seiring tingginya dinamika tektonik di wilayah Nusantara.

SIAGA! Banyak Gunung Mulai Erupsi, Tanda Megathrust Semakin Dekat

SIAGA! Banyak Gunung Mulai Erupsi, Tanda Megathrust Semakin Dekat

Menanggapi keresahan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali menegaskan bahwa aktivitas vulkanik gunung api tidak berkaitan langsung dengan potensi terjadinya gempa bumi megathrust.

WASPADA! Gunung Anak Krakatau Erupsi, Siaga 1 Megathrust?

WASPADA! Gunung Anak Krakatau Erupsi, Siaga 1 Megathrust?

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM resmi mengumumkan berakhirnya episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer