Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membincang Tuhan, Agama, dan Sains di Forum Suluk Maleman

Achmad Ulil Albab
Penulis: Achmad Ulil Albab❯
Ngaji Budaya Suluk Maleman  pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia. (DOK SULUK MALEMAN)
Ngaji Budaya Suluk Maleman pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia. (DOK SULUK MALEMAN)

 


Advertisement

PATI - Pemahaman manusia tentang Tuhan sering kali menjadi perdebatan yang rumit, terutama karena beragam sudut pandang yang digunakan.

Isu ini menjadi topik utama dalam forum NgAllah Suluk Maleman yang berlangsung pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia.

Anis Sholeh Ba’asyin, selaku pembicara utama, mengawali diskusi dengan menekankan bahwa ateisme bukanlah fenomena baru.

Advertisement

Menurutnya, dalam berbagai teori disebutkan bahwa manusia pada mulanya mempercayai Tuhan Yang Maha Esa.

Namun, seiring berkembangnya kebudayaan, keyakinan itu bergeser dan menjelma menjadi pemujaan terhadap banyak dewa.

“Perubahan ini kemudian memunculkan istilah ‘ateis’ dalam peradaban Yunani. Meski makna ateis saat itu tidak spesifik seperti sekarang, istilah tersebut digunakan untuk menyebut bangsa atau kelompok dengan pandangan tentang Tuhan yang berbeda dari keyakinan orang Yunani,” jelas Anis.

Advertisement

Ia juga menyampaikan bahwa keraguan terhadap kebangkitan setelah kematian sudah ada jauh sebelum sains berkembang.

Bahkan dalam Al-Qur’an, ada kisah Nabi Ibrahim yang bertanya kepada Tuhan bagaimana manusia dibangkitkan setelah mati.

“Hal ini membuktikan bahwa menjadi ateis atau meragukan kehidupan setelah mati bukan semata karena pengaruh sains. Sains hanya dijadikan alat untuk memperkuat pandangan yang sebenarnya telah lama ada,” tegas Anis.

Anis pun membedakan antara ‘ilmu’ dan ‘sains’ dari segi epistemologi. Menurutnya, ilmu mencakup aspek lahir dan batin dari semesta, sementara sains modern lebih banyak membatasi diri hanya pada hal-hal yang lahiriah.

Dalam membahas konsep Tuhan, Anis mengingatkan agar tidak sembarangan. Keberadaan Tuhan, menurutnya, bisa dikenali melalui jalur ilmu tertentu.

Namun, keberadaan Tuhan tidak bisa disamakan dengan konsep “ada” dalam persepsi manusia yang terbatas. Untuk itu, manusia membutuhkan “alat” lain: yaitu mata hati atau intellectus dalam istilah Yunani kuno.

Intellectus, lanjut Anis, hanya bisa diaktifkan melalui proses penyucian diri yang konsisten. Manusia harus melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dunia materi agar mampu menangkap kehadiran Tuhan secara aktual.

Sementara itu, budayawan asal Kudus, Dr Abdul Jalil, turut memberi pandangan tentang hubungan antara agama dan sains.

Ia menanyakan, apakah relasi keduanya bersifat saling bertentangan, saling melengkapi, atau bahkan menyatu.

Jalil juga menyoroti munculnya kelompok yang percaya akan keberadaan Tuhan, namun menolak agama. Menurutnya, ini adalah kecenderungan yang mengkhawatirkan. "Banyak tokoh sosial dan aktivis yang seperti itu. Mereka percaya Tuhan, tapi menganggap agama tidak relevan. Ibaratnya: moral yes, spiritual yes, tapi agama no," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Anis menyebutnya sebagai sebuah ironi. Ia mengatakan, di satu sisi ada orang yang beragama tapi tidak ber-Tuhan, dan di sisi lain ada yang ber-Tuhan tapi tidak beragama.

“Orang yang beragama tapi tidak ber-Tuhan ibarat tubuh tanpa ruh—seperti zombie, mayat berjalan. Sebaliknya, yang ber-Tuhan tapi tidak beragama ibarat ruh tanpa tubuh—layaknya hantu,” pungkas Anis. (aua)

Advertisement

Artikel Terkait

Suluk Maleman Mengajak Pentingnya Membaca Situasi dengan Jernih

Suluk Maleman Mengajak Pentingnya Membaca Situasi dengan Jernih

Kesabaran tidak cukup dimaknai sebagai sikap menerima keadaan tanpa berbuat apa-apa. Di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan, kesabaran justru diperlukan untuk membaca situasi secara jernih.

Renungan Makna Kehidupan di Tengah Gaya Hidup Modern

Renungan Makna Kehidupan di Tengah Gaya Hidup Modern

Budayawan Anis Sholeh Ba'asyin mengajak masyarakat untuk kembali merefleksikan makna kehidupan di tengah derasnya arus modernitas yang dinilai mendorong manusia terus mengejar keinginan tanpa pernah merasa cukup.

Makna Kemerdekaan sebagai Kedaulatan dan Kemandirian

Makna Kemerdekaan sebagai Kedaulatan dan Kemandirian

Makna kemerdekaan dinilai tidak cukup hanya dipahami sebagai terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus diwujudkan dalam kemandirian dan kedaulatan bangsa, termasuk keberanian masyarakat mengelola kehidupan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer