Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Suluk Maleman Mengajak Pentingnya Membaca Situasi dengan Jernih

A
Penulis: Achmad Ulil Albab❯

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin.
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin.

 

PATI – Kesabaran tidak cukup dimaknai sebagai sikap menerima keadaan tanpa berbuat apa-apa.

Di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan, kesabaran justru diperlukan untuk membaca situasi secara jernih, memahami akar masalah, serta menentukan langkah penyelesaian yang tepat.

Gagasan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Suluk Maleman edisi ke-178 bertajuk Kawah Candradimuka Kesabaran yang digelar pada Sabtu (17/11).

Dalam forum ngaji budaya itu, budayawan asal Pati, Anis Sholeh Ba’asyin, mengajak masyarakat menjadikan kesabaran sebagai sikap aktif dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Anis membuka dialog dengan menggambarkan kondisi yang tengah dihadapi masyarakat, mulai dari cuaca panas ekstrem, persoalan lingkungan, hingga situasi kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

“Kita rasakan di Pati saja cuacanya sampai 36 derajat. Kalau di sini kita merasakan panas yang luar biasa, bagaimana dengan saudara kita di Kalimantan? Mereka tak hanya dipanggang panas, tetapi juga dikepung asap sehingga untuk bernapas pun sulit. Bahkan di Gaza, tak sekadar asap, tetapi malah peluru,” ujar Anis.

Menurut dia, berbagai persoalan tersebut berjalan beriringan dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Kesulitan mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup menjadi keluhan yang terus muncul.

Di sisi lain, kebijakan perpajakan juga menjadi perhatian pelaku usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga sektor marketplace.

Kondisi itu, kata Anis, semakin terasa kontras ketika masyarakat menyaksikan adanya pameran kekayaan secara berlebihan dan kasus korupsi dalam skala besar.

“Sementara di sisi lain ada yang memamerkan kekayaan secara tidak masuk akal. Ada korupsi yang luar biasa. Tentu ini paradoks,” terangnya.

Berbagai ketimpangan tersebut, lanjut Anis, wajar memunculkan kemarahan, terutama dari masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil.

Namun, kemarahan tidak boleh menjadi satu-satunya respons dalam menghadapi keadaan.

Dia mengingatkan bahwa kemarahan yang tidak dikelola berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menguntungkan diri sendiri maupun kelompoknya.

Akibatnya, masyarakat justru dapat terjebak dalam persoalan baru meskipun sebelumnya berusaha keluar dari masalah yang dihadapi.

Karena itu, Anis mengajak masyarakat membaca setiap peristiwa secara lebih mendalam.

Masyarakat tidak seharusnya hanya terpaku pada apa yang terlihat atau narasi yang beredar, tetapi perlu menelusuri persoalan di baliknya.

“Oleh karena itu, kita juga harus mulai membaca semua fenomena yang terjadi sebagai ayat-ayat yang harus kita baca dengan hati-hati. Kita tak boleh berhenti pada apa yang tampak atau narasi yang muncul, tetapi harus berani membongkar lapisan-lapisan tersembunyi di baliknya, sekaligus mencoba membaca apa pesan yang disampaikan Allah kepada kita melalui semua peristiwa ini,” tegasnya.

Kesabaran Harus Disertai Kejernihan Hati

Anis menjelaskan, ajaran Islam menempatkan sabar dan salat sebagai jalan untuk memohon pertolongan Allah.

Keduanya menjadi landasan penting dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk ketika seseorang berada dalam situasi sulit.

Namun, kesabaran harus disertai upaya memahami keadaan dan mencari petunjuk Allah.

Proses tersebut membutuhkan kejernihan hati agar seseorang tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi.

Menurut Anis, ketika kemarahan mampu diredam, seseorang dapat menjadikan situasi yang dihadapi sebagai cermin untuk mengevaluasi diri sekaligus memahami persoalan secara lebih objektif.

Pertama, seseorang perlu melihat sejauh mana peran dan kontribusi dirinya terhadap keadaan yang memicu kemarahan.

Kedua, berusaha mengenali fakta dan jaringan kepentingan yang mungkin berada di balik suatu peristiwa.

Ketiga, menggunakan pemahaman tersebut untuk mencari jalan keluar, setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga, serta jika memungkinkan bagi lingkungan sekitar.

“Bila mampu mengendapkan kemarahan, insya Allah kita akan mampu melihat semua yang terjadi seperti cermin. Pertama, kita akan melihat seberapa besar peran dan partisipasi kita sendiri pada semua keadaan yang membuat kita marah tersebut. Kedua, sedikit demi sedikit kita akan mulai bisa membaca fakta-fakta dan jaringan-jaringan kepentingan yang ada di baliknya. Ketiga, dari situ kita bisa mulai mencari jalan keluar,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Anis juga mengutip Surah Al-Asr untuk menegaskan pentingnya menempatkan kesabaran bersama kebenaran.

Menurut dia, seseorang harus terlebih dahulu berada di jalur yang benar sebelum berbicara mengenai kesabaran dalam menghadapi suatu keadaan.

Dia mengibaratkan orang yang menunggu kereta api di terminal sebagai contoh kesabaran yang tidak tepat karena dilakukan di tempat yang keliru.

“Menunggu kereta api di terminal itu bukan kesabaran, tetapi kesesatan, karena tak akan ada kereta api yang mampir di terminal. Ini hampir sama dengan orang yang membakar hutan lantas minta kita bersabar karena toh nanti apinya akan padam sendiri. Oleh karena itu, kita harus berada pada jalur benar lebih dahulu, baru setelah itu bersabar,” tegasnya.

Kepentingan Bisa Membelokkan Kebenaran

Lebih lanjut, Anis mengingatkan bahwa kemampuan membaca situasi dengan sabar dapat membantu masyarakat terhindar dari jebakan narasi yang dibangun oleh pihak-pihak yang sedang berkonflik maupun mereka yang mengambil keuntungan dari konflik tersebut.

Menurut dia, pihak-pihak yang digerakkan oleh kepentingan pribadi atau kelompok berpotensi mengabaikan fakta di lapangan demi memperoleh dukungan.

Dalam kondisi seperti itu, masyarakat perlu bersikap kritis dan tidak mudah terbawa arus informasi.

Anis juga menyoroti pandangan yang mengaitkan kekerasan secara langsung dengan agama atau ideologi.

Dia menilai faktor manusia dan kepentingan yang melatarbelakangi tindakannya perlu menjadi perhatian dalam memahami persoalan tersebut.

“Ada yang menyebut agama menyebabkan kekerasan, ideologi menyebabkan kekerasan. Namun, sejatinya kekerasan itu tidak murni muncul dari agama atau ideologi, tetapi dari manusianya. Kuncinya manusia. Bila kepentingan diri dan kelompok menguasai diri, maka manusia bisa melakukan apa saja untuk mengajak orang agar mendukung dia, termasuk dengan cara-cara yang jahat dan tak bermoral,” ujarnya.

Dia pun mengajak peserta untuk memulai perbaikan dari diri sendiri sebelum menilai kesalahan orang lain.

“Oleh karena itu, kalau engkau lihat kejahatan, lihat di dirimu: adakah kejahatan itu di dirimu? Bersihkan dulu yang ada dalam dirimu,” tambahnya. (aua)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Renungan Makna Kehidupan di Tengah Gaya Hidup Modern

Renungan Makna Kehidupan di Tengah Gaya Hidup Modern

Budayawan Anis Sholeh Ba'asyin mengajak masyarakat untuk kembali merefleksikan makna kehidupan di tengah derasnya arus modernitas yang dinilai mendorong manusia terus mengejar keinginan tanpa pernah merasa cukup.

Makna Kemerdekaan sebagai Kedaulatan dan Kemandirian

Makna Kemerdekaan sebagai Kedaulatan dan Kemandirian

Makna kemerdekaan dinilai tidak cukup hanya dipahami sebagai terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus diwujudkan dalam kemandirian dan kedaulatan bangsa, termasuk keberanian masyarakat mengelola kehidupan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer