
PATI – Makna kemerdekaan dinilai tidak cukup hanya dipahami sebagai terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan juga harus diwujudkan dalam kemandirian dan kedaulatan bangsa, termasuk keberanian masyarakat mengelola kehidupan serta menentukan arah masa depannya sendiri.
Pandangan tersebut disampaikan budayawan Anis Sholeh Ba’asyin dalam forum Suluk Maleman pada momentum bulan kemerdekaan.
Menurut Anis, istilah merdeka dalam konteks geopolitik merupakan terjemahan dari kata independen, yang berarti tidak bergantung kepada pihak lain.
Sementara dalam konteks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, makna tersebut kemudian dipahami sebagai pernyataan lepas dari cengkeraman penjajahan.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemaknaan kemerdekaan sebatas pergantian kekuasaan berpotensi menimbulkan persoalan baru.
“Jika kemerdekaan hanya dimaknai demikian, muncul kekhawatiran bahwa kemerdekaan hanya sekadar perpindahan dari penguasa lama ke penguasa baru. Dan kekhawatiran semacam itu pernah diungkap oleh Tan Malaka,” ujar Anis.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut semakin terasa dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kondisi itu berbeda dengan fase awal kemerdekaan ketika semangat kerakyatan para tokoh bangsa masih sangat kuat dan kepentingan pribadi belum menjadi orientasi utama.
Anis bahkan mengingatkan kembali pengorbanan para pejuang yang gugur dalam merebut kemerdekaan. Ia mengibaratkan para syuhada sebagai sosok yang masih hidup dalam perspektif Al-Qur’an, sehingga perjuangan mereka semestinya menjadi pengingat bagi generasi setelahnya.


