REMBANG – Rati tampak tekun mengerjakan kerajinan anyaman bambu di depan rumahnya.
Dengan menggunakan pisau kecil, ia mengolah bilah-bilah bambu menjadi berbagai produk kerajinan tradisional.
Di sekelilingnya, terlihat sejumlah hasil anyaman yang telah selesai dibuat serta potongan bambu yang digunakan sebagai bahan baku.
Proses pengerjaan kerajinan ini membutuhkan ketelitian dan keterampilan agar menghasilkan anyaman yang rapi dan kuat.
Kerajinan anyaman bambu memiliki beragam fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Produk yang dihasilkan antara lain wadah nasi, tempat dimsum, hingga tempat alat tulis.
Namun, keberadaan produk modern menjadi tantangan bagi perajin karena harga jual anyaman bambu kini mengalami penurunan.
“Sekarang harga jual anyaman bambu mengalami penurunan. Meski begitu, saya tetap membuat kerajinan ini agar keterampilan menganyam bambu tetap bertahan,” ujar Rati.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan kerajinan tradisional agar tetap diminati masyarakat.
Meski demikian, anyaman bambu masih memiliki nilai guna sekaligus menjadi bagian dari keterampilan lokal yang perlu dilestarikan.
Rati berharap kerajinan anyaman bambu dapat terus diwariskan secara turun-temurun.
Dengan begitu, anak-anak dapat mengenal kerajinan bambu yang menjadi bagian dari kekayaan keterampilan di desa mereka.
“Harapannya, anak-anak muda bisa mengenal dan belajar menganyam bambu supaya kerajinan ini tidak hilang,” tambahnya.
Pelestarian kerajinan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk mengenal dan menghargai produk tradisional, sehingga keterampilan menganyam bambu tidak hilang seiring perkembangan zaman. (zar)
Baca Juga: Target Tinggi 3 Besar Porprov, Pemkab Pati Siapkan Bonus Medali Emas Rp 50 Juta
Editor : Abdul Rochim