Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kuasai Tari Klasik dan Kontemporer, SOSOK Penari dari Lasem Rembang Ini Ingin Lanjutkan Sanggar Tari Kakek

Abdul Rochim • Senin, 5 Agustus 2024 | 03:18 WIB

 

Photo
Photo

RAFIKA Sivananda Prasetyo memiliki hobi menari. Beragam tarian ia kuasai. Mulai klasik ataupun kontemporer.

Salah satu tari klasik Jateng yang ia kuasai, Bambangan Cakil.

Tari itu ia tampilkan dalam pembukaan Pesta Siaga Regional I Kwartir Daerah Jawa Tengah, di Karang Jahe Beach (KJB), Punjulharjo Rembang beberapa bulan silam.

Siva begitu sapaannya-mengaku sudah belajar menari sejak kecil. Berbagai juara dari beragam pernah diraihnya.

Ia mengakui seni tari begitu kental di keluarganya.

”Almarhum kakek saya Karnoto dulu seniman. Saya belajar menari dan karawitan sejak usia lima tahun. Saya termasuk yang diajari kakek,” pengakuan dara kelahiran Rembang, 18 November 2005.

Kakaknya punya sanggar. Bakatnya diasah di sana. Ia masih ingat betul tari pertama yang dikuasai Bondan Kendi. Itu merupakan tari klasik Jateng.

Hingga sekarang lumayan banyak tarian klasik Jateng yang dia kuasai. Termasuk yang ditampilkan di hadapan peserta Pesta Siaga Regional I Kwartir Daerah Jateng.

”Tari Bambangan Cakil yang saya bawakan lumayan agak sulit. Soalnya harus kerja sama dengan partner satunya. Gerakanya banyak,” pengakuan dara yang tinggal di Desa Sendangasri, RT 1/RW I, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Ia mengakui latihan menari tidak cukup hafalan. Tapi harus praktik gerakan.

Usai lulus SMA, kini Siva mengembangkan kemampuan tarinya di bangku perkuliahan. Kebetulan dia keterima Universitas Negeri Semarang, jurusan Pendidikan Seni Tari.

”Saya ingin menjadi guru tari. Sekarang saya melanjutkan belajar tari di sanggar tari Desa Sendangasri. Karena sanggar kakek saya sudah tidak beroperasi lagi setelah kakek meninggal dunia,” imbuhnya.

”Saya ingin melanjutkan sanggar tari kakek.”

Keputusan yang diambil Siva tepat. Pertama dirinya ingin nguri-nguri budaya, sekaligus meneruskan jejak seni keluarga besarnya. Apalagi di kampung tempat tinggalnya Desa Sendangasri, dinobatkan desa seni dan budaya di Kecamatan Lasem.

Di sana menjadi rujukan kunjungan dan studi banding. Di lokasi itu wisatawan selain liburan bisa menambah khasanah tarian. Wisatawan bisa belajar membatik, tari, wayang. Sudah banyak yang belajar di desa wisata berbasis seni tersebut.

Kebetulan Desa Sendangasri masuk pada peringkat 100 besar nasional dari 6.010 desa wisata se-Indonesia. Pokdarwis desa Sendangasri menjadi juara umum Jambore Pokdarwis tingkat Provinsi Jateng. (noe/zen)

 

 

 

 

Editor : Abdul Rochim
#tarian #Tari Klasik #jateng #universitas negeri semarang #blora