REMBANG – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, menghadiri peringatan Anniversary Forum Anak Beasiswa (FABs) ke-IX.
Kehadirannya sekaligus menjadi pembicara Seminar Nasional bertema Digital Citizenship: Membangun Generasi Cerdas, Kreatif, dan Berkarakter di Era Transformasi Digital di Pendopo Museum RA Kartini Rembang, Sabtu (4/7).
Dalam seminar tersebut, Abdul Mu’ti membagikan kisah perjalanan pendidikannya yang hampir seluruhnya ditempuh melalui jalur beasiswa.
Menurutnya, pengalaman itu menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Baca Juga: Minyakita Bau Solar di Rembang: Dinas Sebut Hanya Ditemukan pada Bantuan Pangan
"Saya termasuk anak Indonesia yang hidupnya dari beasiswa ke beasiswa, mulai sekolah dasar hingga menempuh pendidikan pascasarjana di luar negeri," ujar Abdul Mu’ti.
Ia mengenang saat menjadi mahasiswa IAIN Walisongo dan menerima Beasiswa Supersemar.
Kala itu, penerima beasiswa sangat terbatas dan hanya diberikan kepada mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik.
"Waktu kuliah saya menerima Beasiswa Supersemar. Dari tujuh fakultas hanya ada 21 mahasiswa yang mendapatkannya. Syaratnya IP minimal 3, dan saat itu mendapatkan IP di atas 3 bukan perkara mudah," kenangnya.
Suasana seminar semakin cair ketika Abdul Mu’ti menceritakan guyonan para dosen mengenai nilai akademik.
"Dulu ada ungkapan, nilai A untuk malaikat, nilai B untuk dosen, mahasiswa cukup C saja. Jadi kalau punya IP di atas 3 sudah termasuk luar biasa," katanya yang disambut tawa peserta.
Menteri asal Kudus itu juga mengungkapkan pendidikan magisternya di Flinders University, Australia Selatan, ditempuh melalui program Australia Awards Scholarship.
Ia berharap kisah tersebut dapat memotivasi generasi muda untuk terus berprestasi dan berani mengejar kesempatan melalui berbagai program beasiswa.
Sementara itu, Wakil Bupati Rembang sekaligus Pembina FABs, Mochamad Hanies Cholil Barro, mengatakan Pemerintah Kabupaten Rembang telah menjalankan program beasiswa sejak 2017.
Selama sembilan tahun, sebanyak 494 mahasiswa telah menerima beasiswa, terdiri atas 389 mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa dan Madura serta 105 mahasiswa di perguruan tinggi swasta di Kabupaten Rembang.
"Kami bangga FABS mampu menghadirkan Bapak Menteri. Ini menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Rembang sekaligus penyemangat bagi para penerima beasiswa," ujar Hanies.
Ia mengingatkan para penerima beasiswa agar menjaga prestasi akademik.
Pemerintah daerah akan memberikan peringatan hingga mencabut beasiswa apabila penerima tidak memenuhi standar yang telah disepakati.
"Jangan takut mencoba hal-hal baru. Dunia terus berubah dan berkembang. Anak-anak FABS harus berani mengambil peluang untuk meningkatkan kemampuan diri," pesannya.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Rembang Harno menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terhadap sektor pendidikan di daerah, termasuk program revitalisasi sekolah.
Ia juga menyampaikan dua aspirasi kepada Menteri Abdul Mu’ti, yakni perlunya percepatan revitalisasi satuan pendidikan dan perhatian terhadap masih banyaknya guru tidak tetap (GTT).
"Kami bersyukur mendapatkan dukungan revitalisasi sekolah dari kementerian. Selain itu, kami berharap ada solusi terhadap kebutuhan tenaga pendidik agar kualitas pendidikan terus meningkat," ujar Harno.
Abdul Mu’ti turut mengapresiasi keberlanjutan program beasiswa yang dijalankan Pemkab Rembang.
Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam membuka akses pendidikan bagi pelajar berprestasi.
"Program ini sangat baik. Pemerintah daerah menunjukkan komitmen membantu anak-anak berprestasi agar dapat melanjutkan pendidikan melalui beasiswa. Ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat mencetak generasi yang cerdas dan berdaya saing," pungkasnya. (noe)
Editor : Abdul Rochim