29 Desa di Pati Krisis Air, Warga dan Petani Nunggu Waduk Kedungombo Dibuka

Abdul Rochim • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 09:23 WIB
KERING: Warga berdatangan melihat Bendung Karet kering belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
KERING: Warga berdatangan melihat Bendung Karet kering belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI – Kekeringan di Kabupaten Pati semakin meluas. Sebanyak 29 desa yang tersebar di sembilan kecamatan kini mengalami krisis air bersih.

Pemerintah daerah pun menyiapkan langkah tambahan dengan mengusulkan pembukaan aliran dari Waduk Kedungombo.

Plh Kepala Pelaksana BPBD Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Pati Kota, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, Sukolilo, Jaken, Jakenan, Gabus, dan Kayen.

Baca Juga: Tiga Siswa Korban Keracunan MBG di Pati Pulang, Kondisi Mulai Membaik

Dari sejumlah wilayah tersebut, Kecamatan Jakenan menjadi salah satu kawasan yang paling membutuhkan pasokan air.

Beberapa desa seperti Tambahmulyo, Plosojenar, Karangrejo Lor, Kalimulyo, Tlogorejo, dan Tondokerto bahkan hampir setiap hari mengajukan permintaan bantuan air bersih.

BPBD bersama PMI terus melakukan distribusi air ke desa-desa terdampak. Hingga kini, sebanyak 98 tangki atau sekitar 465 ribu liter air telah disalurkan kepada masyarakat.

"Kita sudah melakukan pengiriman air bersih ke 29 desa dari 9 kecamatan di timur dan selatan. Total sudah ada 98 tangki atau sekitar 465.000 liter air yang kami dropping," ujar Martinus.

Ia menjelaskan, desa yang membutuhkan bantuan air bersih perlu mengajukan permintaan secara resmi kepada BPBD.

Langkah tersebut diperlukan agar penyaluran dapat dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.

Persoalan kekeringan tidak hanya berdampak pada kebutuhan air untuk warga.

Menurunnya debit air juga mulai mengancam sektor pertanian. Waduk Bumi Mina Tani dan Sungai Silugonggo dilaporkan mengalami penyusutan debit akibat kemarau panjang.

Karena itu, Pemkab Pati berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mendapatkan tambahan pasokan air dari wilayah hulu.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah mengalirkan air dari Waduk Kedungombo menuju Sungai Juwana.

Rencana tersebut dijadwalkan mulai dilakukan pada 15 September. Setiap pintu air direncanakan mengalirkan debit sekitar 3 meter kubik per detik.

Namun, durasi pembukaan pintu air masih menunggu kepastian dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

Martinus mengatakan, tambahan pasokan tersebut diharapkan mampu menjaga aliran Sungai Juwana sekaligus mengurangi ancaman kekeringan terhadap lahan pertanian.

"Dibukanya waduk bertujuan membantu memulihkan area Sungai Juwana agar air di sana tidak kering. Kami terus berupaya supaya dampak kekeringan ini tidak berimbas pada tanaman pangan, khususnya area persawahan di Kabupaten Pati," tandasnya.

Dengan kondisi kekeringan yang terus meluas, distribusi air bersih dan upaya menjaga pasokan untuk pertanian menjadi dua langkah utama yang dilakukan pemerintah. (*)

Editor : Abdul Rochim
kekeringan Pati krisis air bersih Pati Waduk Kedungombo sungai juwana bpbd pati