PATI – Dugaan penyalahgunaan barcode bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar mencuat di Kabupaten Pati.
Oknum pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diduga menggunakan barcode milik kendaraan lain untuk melayani pengisian solar subsidi, sehingga kuota pemilik barcode yang sah justru habis tanpa pernah melakukan pembelian.
Kasus tersebut mencuat setelah seorang warga memprotes dugaan praktik kecurangan di salah satu SPBU di Pati.
Aksi protes itu terekam dalam video yang diunggah akun Facebook "MBAH TO" pada Jumat (3/7).
Baca Juga: Pemkab Pati Pastikan Beasiswa Garuda Berlanjut, Tunggakan Tiga Bulan Segera Dicairkan
Dalam video tersebut, seorang warga mengaku heran karena kendaraannya dibatasi hanya bisa membeli solar subsidi senilai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu.
Sementara itu, sebuah truk engkel diduga dapat mengisi solar hingga sekitar Rp 600 ribu atau setara sekitar 88 liter.
"Lainnya dibatasi cuma Rp 300.000 sampai Rp 400.000. Di sini kuat Rp 600.000," ujar warga dalam rekaman video tersebut.
Warga itu menduga terdapat kerja sama antara oknum operator SPBU dengan pelangsir solar subsidi.
Untuk membuktikan kecurigaannya, ia meminta manajemen SPBU membuka rekaman kamera pengawas (CCTV).
Dari hasil pemeriksaan CCTV bersama pengawas SPBU, terlihat sebuah truk engkel berwarna kuning melakukan pengisian solar subsidi dalam jumlah besar pada 3 Juli 2026 sekitar pukul 09.58 WIB.
Pemeriksaan terhadap kendaraan tersebut juga menemukan adanya dugaan modifikasi tangki sehingga mampu menampung solar dalam kapasitas jauh lebih besar dibanding tangki standar.
Menanggapi temuan itu, pengawas SPBU menyatakan akan mengevaluasi operator yang bertugas apabila terbukti melanggar prosedur.
"Operator kami instruksikan bekerja sesuai prosedur. Kalau memang ada yang melanggar, tentu akan kami tindak," ujarnya.
Dugaan penyalahgunaan barcode juga dialami sopir truk asal Kecamatan Tlogowungu, Alvian Novanto, 29.
Ia mengaku tidak dapat membeli solar subsidi karena sistem menunjukkan kuota kendaraannya telah habis, padahal pada hari itu ia sama sekali belum melakukan pengisian BBM.
"Saat mau berangkat ke Blora, saya mengisi di SPBU Pati tidak bisa. Kuotanya sudah penuh, padahal saya baru mau berangkat," katanya.
Alvian kemudian mempertanyakan kondisi tersebut kepada petugas SPBU. Namun, menurutnya, ia tidak memperoleh penjelasan yang memuaskan karena mandor disebut sedang tidak berada di lokasi.
"Katanya mandornya sedang pergi. Besoknya saya ke sana lagi," ujarnya.
Akibat tidak bisa memperoleh solar subsidi, Alvian terpaksa membatalkan keberangkatannya karena bahan bakar yang tersisa diperkirakan tidak cukup untuk mencapai tujuan.
"Kalau dipaksakan paling sampai Rembang sudah habis. Setelah itu mau isi BBM bagaimana," katanya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi pada Senin (6/7), pihak SPBU 44.581.03 enggan memberikan keterangan terkait dugaan penyalahgunaan tersebut.
Seorang perwakilan SPBU hanya menyampaikan persoalan tersebut telah selesai.
"Tidak usah. Sudah berdamai," ujarnya singkat. (adr)