PATI – Jumlah pengangguran di Kabupaten Pati masih tergolong tinggi.
Berdasarkan data terbaru, sekitar 29 ribu warga belum memperoleh pekerjaan atau setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 3,71 persen.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pati, Bambang Agus Yunianto, mengatakan angka tersebut mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS).
"Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Pati 3,71 persen atau sekitar 29 ribu orang," ujarnya.
Baca Juga: Plt Bupati Pati Cek Kesiapan Sekolah Rakyat, Target Beroperasi 10 Juli
Menurut Bambang, sebagian besar pengangguran di Kabupaten Pati merupakan laki-laki.
Kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik industri di Pati yang lebih banyak membutuhkan tenaga kerja perempuan.
"Di Pati selama ini perusahaan lebih banyak merekrut tenaga kerja perempuan. Akibatnya, banyak laki-laki yang memilih mencari pekerjaan hingga ke luar negeri," jelasnya.
Meski angka pengangguran masih cukup tinggi, Bambang menyebut peluang kerja di Kabupaten Pati tetap tersedia.
Hingga akhir Mei 2026, sekitar 6.500 tenaga kerja telah terserap di berbagai perusahaan.
"Hingga akhir Mei, ada sekitar 6.500 tenaga kerja yang terserap di sejumlah perusahaan di Pati, seperti Sejin, Misaja Mitra, dan perusahaan lainnya," katanya.
Untuk menekan angka pengangguran, Disnaker terus memperluas penempatan tenaga kerja ke luar negeri.
Jepang dan Korea Selatan menjadi tujuan utama karena memiliki permintaan tenaga kerja yang cukup besar.
Melalui program tersebut, Disnaker menargetkan Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Pati dapat turun menjadi 3,5 persen pada akhir 2026.
"Kami berharap pada 2026 angka TPT bisa turun menjadi 3,5 persen. Ada sekitar 10 ribu tenaga kerja yang berpeluang diserap di Jepang dan Korea Selatan," ungkap Bambang.
Selain Jepang dan Korea Selatan, peluang kerja juga tersedia di sejumlah negara lain, seperti Australia, Jerman, dan Polandia, meski jumlah penempatannya masih relatif terbatas.
"Untuk Australia sekitar 100 hingga 200 orang. Sementara ke Jerman dan Polandia juga ada, tetapi skalanya masih kecil," pungkasnya. (adr)
Editor : Abdul Rochim