Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Wow! Petani di Pati Kegirangan, Serapan Gabah Sudah di Atas HPP, Ini Gabah yang Sudah Diserap Bulog

Abdul Rochim • Senin, 24 Februari 2025 | 22:45 WIB

 

DIJUAL: Gabah petani di wilayah Kayen mulai diambil pembeli akhir pekan lalu.  (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)
DIJUAL: Gabah petani di wilayah Kayen mulai diambil pembeli akhir pekan lalu. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR PATI)

PATI, RadarPati.ID - Di Kabupaten Pati, harga serapan gabah kering panen (GKP) oleh tengkulak melonjak di atas harga yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo. Yakni Rp 6.500 per kilogram.

Belakanhan ini persaingan antara Bulog dan tengkulak dalam menyerap gabah dari petani di Desa Karaban, Kecamatan Gabus semakin ketat.

Tengkulak membeli gabah dengan harga mencapai Rp 6.600 per kilogram, melampaui harga pokok penjualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah.

Sementara Bulog, ada di harga sesuai HPP, yaitu Rp 6.500.

Menanggapi hal ini, Pimpinan Bulog Kantor Cabang Pati Nur Hardiansyah menyatakan, harga serapan yang diterapkan tengkulak justru menguntungkan petani.

“Kalau di lapangan harganya Rp 6.500 atau Rp 6.700 per kilogram, itu malah bagus. Artinya, pihak swasta juga menjalankan instruksi Presiden. Sementara Bulog sudah dipatok dengan harga Rp 6.500,” jelasnya.

Untuk memudahkan penyerapan gabah dari petani, Bulog telah bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) di setiap desa.

Petani yang ingin menjual gabahnya ke Bulog dapat menghubungi anggota TNI, khususnya Babinsa, yang akan membantu mengoordinasikan serapan langsung di sawah dengan harga Rp 6.500 per kilogram.

"Sudah ada kontak yang tersedia di gudang-gudang Bulog, dan TNI melalui Babinsa juga akan menginformasikan jika ada panen, sehingga Bulog bisa turun langsung ke lokasi," tambah Nur Hardiansyah.

Meski begitu, petani dengan hasil panen terbatas tidak perlu khawatir.

Bulog tetap akan menyerap GKP, baik dalam jumlah kecil maupun besar, sesuai mekanisme yang berlaku.

“Kalau muatan truk tidak penuh, biaya operasional akan mahal. Tapi kami akan mengupayakan agar bisa menyerap gabah dengan efisien,” jelasnya.

Sementara itu, Dandim Pati Letkol Inf Jon Young Saragi menegaskan pentingnya peran TNI dalam mendukung program swasembada pangan.

Ia menginstruksikan seluruh jajarannya untuk terlibat langsung dalam mendampingi petani selama musim panen tanam pertama (MT 1).

Dandim meminta seluruh Danramil dan Babinsa mendata sawah di wilayah binaannya serta memantau waktu panen.

"Saya perintahkan agar Babinsa mengetahui seluruh petani yang siap panen dan membantu penyerapan hasil panen oleh Bulog," ujarnya.

Lebih lanjut, Dandim menekankan pentingnya tanggung jawab dan sinergi antara TNI dengan instansi terkait.

“Jaga sinergitas dan hubungan baik dengan berbagai pihak demi keberhasilan swasembada pangan,” katanya.

Sebagai informasi, dari target tahunan sebesar 91.800 ton, hingga 20 Februari 2025.

Bulog telah berhasil menyerap 600 ton gabah dan 3.515 ton beras dari petani di Kabupaten Pati.

Dengan harga serapan yang kompetitif, baik dari Bulog maupun tengkulak, diharapkan kesejahteraan petani meningkat dan semangat mereka untuk terus bertani semakin tinggi. (adr/him)

Editor : Abdul Rochim
#bulog #gabah #pati #hpp #petani