PATI, RADARPATI.ID – Bantuan sosial (bansos) jenis bantuan pangan nontunai (BPNT) di Pati tak terkontrol.
Sebanyak 120 ribuan penerima tidak termonitor dinas terkait. Ada indikasi bantuan itu untuk bayar pinjaman online dan untuk bayar utang.
Berdasarkan keterangan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Pati jumlah penerima BPNT ini sebanyak 120 ribuan orang.
Bantuan tersebut berupa uang tunai Rp 200 ribu per bulan.
Bantuan tersebut diberikan kepada penerima melalui kartu ATM BRI. Kemudian diambil di agen BRI Link ataupun ATM lainnya.
Sayangnya, penerima bantuan itu tak termonitor. Apakah mau dibelikan kebutuhan pokok atau malah buat beli pulsa atau bayar pinjaman online (pinjol).
Kenyataannya, bantuan tersebut juga tak digunakan untuk membeli sembako.
Banyak obrolan masyarakat di warung-warung desa, bantuan tersebut digunakan untuk keperluan lain. Bahkan ada yang digunakan untuk membayar pinjaman online.
”BPNT itu angil. Sirahku sampai ngelu. Ini realisasi BPNT belum. Itu kan dari BRI Link ngambilnya.
Masyarakat itu bisa mengambil di ATM biasa. Kemudian dibelanjakan tak terdeteksi,” terang Kabid Pemberdayaan Sosial dan penanganan Fakir Miskin pada Dinsos P3AKB Pati Tri Haryumi.
”BPNT uang Rp 200 per bulan selama setahun. Belanjakan sembako mestinya. Karena tak terdeteksi mungkin ada yang beli pulsa. Lha ya seperti itu,” lanjutnya.
Menurutnya, regulasi penyaluran bantuan tersebut abu-abu. Bantuan itu diberikan tapi dipersilahkan untuk beli sembako di toko terdekat.
”Regulasinya gini, bisa diambil di ATM atau agen koma dibelanjakan sembako di toko terdekat.
Itu kan tak terkontrol. Seharusnya ada perubahan regulasi sehingga memudahkan monitoring,” paparnya.
”Kalau sekarang bukan E-warung, tapi warung terdekat. Jadi dibelanjakan toko terdekat,” lanjutnya.
Dirinya mengaku kebingungan ketika ditanya realisasi bantuan itu oleh aparat penegak hukum (APH). Sebab, dia tak menahu realisasi BPNT itu.
”BPNT tak termonitoring. Blas. Kalau dulu ada. Kalau ditanya polisi ya saya bilang tak tahu. Soalnya tak ada laporan realisasi,” imbuhnya.
Di samping itu, persoalannya dia tak mendapatkan laporan dari penyalur. Sehingga kesulitan memantau bansos supaya tepat sasaran.
”Data tak dikasih mau gerak bagaimana. Pencairan di agen itu bisa. Tapi di ATM lo sing reti sopo. Tak jawab gitu kalau ditanya,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu warga Pati Novi Putri mengaku bantuan tersebut digunakannya untuk keperluan anaknya sekolah. Misalnya, untuk membeli buku dan peralatan lainnya. Juga untuk membayar hutang.
”Biasanya pada digunakan keperluan sehari-hari. Ada yang bayar hutang dan membiayai sekolah. Ada yang pinjaman online (pinjol) juga. Tapi kebanyakan ibu-ibu untuk bank plecit,” paparnya.
Di samping itu, warga Pati lain Lina mengaku bantuan dari pemerintah ini digunakan untuk membayar hutang. Baik pinjol maupun bank di daerah.
”Lah piye?. Utange akeh. Diuber bank plecit. Pinjol yo ono,” pungkasnya. (adr/zen)
Editor : Abdul Rochim