Daftar 14 Zona Megathrust Terbaru di Wilayah Indonesia

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 19:29 WIB
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) serta menjadi titik temu empat lempeng tektonik utama dunia—Eurasia, Indo-Australia, Laut Filipina, dan Pasifik—menjadikannya sebagai salah satu negara dengan tingkat aktivitas kegempaan tertinggi di dunia.

Interaksi antarlempeng ini membentuk jalur subduksi sepanjang kurang lebih 9.000 kilometer yang terbagi ke dalam sejumlah segmen megathrust.

Baca Juga: 14 Zona Megathrust Indonesia, Tiga Segmen Dipantau Intensif BMKG

Sebagai sarana mitigasi, Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) di bawah Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pemutakhiran berkala yang dimuat dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.

Pemutakhiran ini didasari oleh perkembangan riset kebumian terkini, data seismologi modern, serta penemuan data geologi terbaru.

Pengertian dan Karakteristik Megathrust

Dalam kajian geologi, gempa zona subduksi terbagi menjadi gempa megathrust (interface earthquake) dan gempa Benioff (intraslab earthquake). Megathrust berada tepat di bidang kontak antara lempeng penunjam dengan lempeng di atasnya.

Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi, Megathrust Selat Sunda Semakin Perlu Diwaspadai

Karakteristik utamanya berada di kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 50 kilometer) dan mampu menyimpan akumulasi energi tektonik dalam rentang waktu yang sangat lama. Potensi pelepasan energinya berisiko memicu gempa bumi dengan magnitudo tinggi sekaligus memicu gelombang tsunami.

Daftar 14 Segmen Megathrust dan Estimasi Magnitudo Maksimum (Mmax)

Berdasarkan pemodelan PuSGeN 2024, berikut adalah daftar 14 segmen megathrust yang diidentifikasi dapat memengaruhi wilayah Indonesia:

Megathrust Aceh-Andaman (Mmax 9,2): Memiliki bentang jalur sepanjang 1.300 kilometer dan menjadi pusat peristiwa gempa serta tsunami Aceh pada tahun 2004 (Mw 9,15).

Megathrust Nias-Simeulue (Mmax 8,7): Pernah memicu rangkaian gempa destruktif, seperti Gempa Nias 1861 (Mw 8,5) dan Gempa Nias-Simeulue 2005 (Mw 8,7).

Megathrust Batu (Mmax 7,8): Memiliki bentang segmen sekitar 70 kilometer dengan catatan sejarah gempa besar pada tahun 1935 (Mw 7,7).

Megathrust Mentawai-Siberut (Mmax 8,9): Berada di lepas pantai barat Sumatra dan tercatat memicu gempa besar pada tahun 1797 dan 1833.

Megathrust Mentawai-Pagai (Mmax 8,9): Menjadi pusat Gempa Bengkulu 2007 (Mw 8,5) dan Gempa Tsunami Mentawai 2010 (Mw 7,8).

Megathrust Enggano (Mmax 8,9): Memiliki panjang segmen sekitar 420 kilometer setelah mengalami pemutakhiran penggabungan area dari Selat Sunda.

Megathrust Jawa (Mmax 9,1): Membentang sepanjang 1.120 kilometer di lepas pantai selatan Pulau Jawa.

Megathrust Jawa Bagian Barat (Mmax 8,9): Memiliki bentang sekitar 670 kilometer dan memperhitungkan rekaman gempa bersejarah di Batavia pada tahun 1699 dan 1780 (Mw 8,5).

Megathrust Jawa Bagian Timur (Mmax 8,9): Jalur sepanjang 450 kilometer ini mencatat histori gempa tahun 1903 (Mw 8,1) serta Gempa Pangandaran 2006 (Mw 7,8).

Megathrust Sumba (Mmax 8,5): Jalur sepanjang 630 kilometer yang pernah memicu Gempa Banyuwangi 1994 (Mw 7,8).

Megathrust Lengan Utara Sulawesi (Mmax 8,5): Membentang 550 kilometer di utara Sulawesi dan pernah memicu Gempa Minahasa 2008 (Mw 7,4).

Palung Cotabato (Mmax 8,3): Berlokasi di Mindanao, Filipina sepanjang 310 kilometer, tetap dimasukkan dalam pemodelan karena posisinya yang berdekatan dengan Indonesia bagian utara.

Filipina Selatan (Mmax 8,2): Bagian dari sistem Megathrust Filipina sepanjang 550 kilometer yang dampak rambatan gempanya pernah dirasakan hingga Indonesia pada tahun 1924.

Filipina Tengah (Mmax 8,1): Jalur sepanjang 370 kilometer yang turut dimodelkan PuSGeN untuk memperhitungkan dampak rambatan guncangan ke wilayah utara Nusantara.

Dinamika Perubahan Pemetaan Megathrust

Perubahan jumlah maupun klasifikasi segmen megathrust merupakan hal alami dalam sains seiring ditemukannya data tektonik baru. Pada peta 2024, beberapa sumber gempa di Indonesia timur mengalami penyesuaian pemaknaan geologi.

Sebagai contoh, Sesar Naik Halmahera dan Sangihe yang sebelumnya dimasukkan sebagai megathrust kini diklasifikasikan sebagai hasil deformasi zona kolisi antarbusur. Sementara itu, Megathrust Papua yang tercantum pada peta edisi 2010 dan 2017 kini dimodelkan secara lebih akurat sebagai sistem sesar naik North Papua Thrust. (*)

Editor : Zakarias Fariury
zona megathrust sesar aktif anak krakatau bmkg megathrust