SIAGA! Banyak Gunung Mulai Erupsi, Tanda Megathrust Semakin Dekat

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 09:03 WIB
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Maraknya aktivitas erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia—termasuk rangkaian letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4–6 September 2026 lalu—sempat memicu kekhawatiran publik mengenai potensi timbulnya gempa bumi tektonik megathrust.

Menanggapi keresahan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali menegaskan bahwa aktivitas vulkanik gunung api tidak berkaitan langsung dengan potensi terjadinya gempa bumi megathrust.

Baca Juga: WASPADA! Gunung Anak Krakatau Erupsi, Siaga 1 Megathrust?

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menjelaskan bahwa letusan gunung api di Indonesia merupakan fenomena geologi yang wajar mengingat Indonesia dilintasi jalur Ring of Fire dengan 127 gunung api aktif.

“Beberapa gunung erupsi itu hal yang wajar karena kita memang memiliki banyak gunung api. Dari 127 gunung aktif di Indonesia, pasti setiap tahun beberapa di antaranya mengalami erupsi,” ujar Teja saat memberikan konfirmasi, Senin (7/9/2026).

Teja meluruskan pemahaman publik dengan menegaskan perbedaan mendasar antara kedua fenomena alam tersebut. Erupsi gunung api hanya sanggup memicu gempa vulkanik yang bersumber dari pergerakan magma dan tekanan gas di dalam tubuh gunung, bukan memicu gempa tektonik skala besar seperti megathrust yang dipicu oleh pergeseran lempeng bumi di zona subduksi.

Karakteristik Kegempaan Wilayah Bali: Terdata 852 Gempa Hingga Agustus 2026

Secara geografis, Bali memang berada di kawasan tektonik aktif. Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Pertama Balai Besar BMKG Wilayah III Denpasar, Aina Najwa Darmanto, memaparkan bahwa Bali dihimpit oleh dua sumber kegempaan utama, yakni zona subduksi lempeng di sebelah selatan serta patahan naik belakang busur (Flores Backarc Thrust) di sebelah utara.

Berdasarkan Peta Seismisitas Wilayah Bali periode Januari hingga Agustus 2026, BMKG mencatat sebanyak 852 kejadian gempa bumi menguncang kawasan Bali dan sekitarnya.

Baca Juga: Zona Megathrust RI Berubah, Ini Wilayah Paling Berbahaya

Puncak aktivitas kegempaan tertinggi terjadi pada Januari 2026 dengan 392 kejadian. Mayoritas guncangan yang terekam didominasi oleh gempa berskala kecil, yakni 802 kejadian bermagnitudo $M \le 3,0$ dan 50 kejadian berada pada rentang $3,0 < M < 5,0$. Selama delapan bulan pertama di tahun 2026, tidak tercatat adanya gempa dengan magnitudo $M \ge 5,0$.

BMKG dan BPBD Bali menekankan bahwa tingginya frekuensi gempa mikro/kecil tersebut merupakan cerminan dari karakter geologi Bali dan tidak dapat dijadikan indikator bahwa gempa megathrust akan segera terjadi.

Status Gunung Api di Bali Normal

Mengenai potensi vulkanik lokal, Provinsi Bali memiliki dua gunung api aktif yang terus dipantau, yaitu Gunung Agung di Karangasem dan Gunung Batur di Bangli. Teja memastikan bahwa hingga saat ini kedua gunung tersebut berada dalam status aman.

Status Vulkanik Bali: Tidak ada peningkatan aktivitas pada Gunung Agung maupun Gunung Batur. Seluruh sistem berada dalam kondisi normal.

Pembagian Kewenangan: Pemantauan aktivitas gunung api berada di bawah wewenang Badan Geologi, sedangkan pemantauan gempa bumi dan seismisitas dikelola oleh BMKG. BPBD Bali terus berkoordinasi secara berkala dengan kedua lembaga resmi tersebut.

Menutup keterangannya, BPBD Bali mengimbau masyarakat serta para wisatawan di Bali untuk tidak panik menyikapi maraknya pemberitaan erupsi maupun isu gempa megathrust.

Masyarakat diharapkan tetap tenang, mengasah kesiapsiagaan mitigasi bencana mandiri, serta hanya mempercayai informasi resmi yang dirilis oleh instansi pemerintah terkait. (*)

Editor : Zakarias Fariury
zona megathrust sesar aktif anak krakatau bmkg megathrust