SUMUR MINYAK RAKYAT Plantungan di Blora: Dulu Kerap Boncos, Kini Sebulan Hasilkan Rp 2,8 M

Eko Santoso • Dipublikasikan Jumat, 17 Juli 2026 | 09:14 WIB

MENGUNTUNGKAN: Pekerja di sumur minyak rakyat Desa Plantungan, Kota, Blora, saat mengisi ke truk tangki. (EKO SANTOSO/RADAR PATI)
MENGUNTUNGKAN: Pekerja di sumur minyak rakyat Desa Plantungan, Kota, Blora, saat mengisi ke truk tangki. (EKO SANTOSO/RADAR PATI)

BLORA – Fantastis, penghasilan dari produksi sumur minyak rakyat di bawah naungan Koperasi Blora Migas Energi (BME) mencapai Rp 2,8 miliar per bulan.

Jumlah ini, berpotensi terus naik, seiring makin banyaknya sumur minyak rakyat yang bakal berproduksi.

Pengelolaan sumur minyak rakyat di bawah Koperasi BME itu, memungkinkan setelah lahirnya regulasi Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 14 Tahun 2025.

Baca Juga: 4.650 Ruang Kelas di Blora Rusak, Dinas Pendidikan Genjot Perbaikan Lewat Program Revitalisasi

Sebelum Permen tersebut, sumur minyak rakyat berjalan di tanah abu-abu dan berjalan secara ilegal. 

Masyarakat pun rentan berurusan dengan hukum. Dengan begitu, mereka kerap boncos, lantaran harus berbenturan dengan berbagai atensi.

Transaksi pun tidak tercatat. Mereka acapkali membuang minyak itu di pasar gelap.

Ketua Koperasi BME Sutrisno menjelaskan, saat ini belum semua wilayah di bawah naungan BME berproduksi.

Baru sumur minyak rakyat dari Desa Plantungan yang sesuai dan telah mengirim ke Pertamina. 

Sebab, ada ketentuan yang harus dipenuhi. Seperti kadar air dalam minyak yang harus sesuai standar.

Desa Plantungan sudah mengirim ke Pertamina sejak Mei. Lalu, Juni mulai menerima pendapatan.

Sebab, Pertamina mengkalkulasi bulanan. “Pada Juni, nilai transaksi dari Desa Plantungan mencapai sekitar Rp 2,8 miliar," bebernya.

Menurutnya, produksi minyak dari Desa Plantungan selama Juni mencapai 380 ribu liter. Dengan rata-rata produksi harian 15 ribu liter.

Saat ini, pihaknya juga tengah mengajukan pencairan untuk produksi selama Juli. 

Dalam setengah bulan, produksi dari Desa Plantungan tercatat mencapai sekitar 175 ribu liter.

Dengan harga beli per liter untuk periode Juli ditetapkan Rp 7.498 per liter, maka potensi pendapatan di atas Rp 1 miliar.

Sutrisno menjelaskan, potensi produksi di sejumlah wilayah lain sebenarnya cukup besar. 

Namun, masih terdapat sejumlah kendala teknis yang membuat minyak belum dapat dipasarkan.

Di Desa Ngiyono, Kecamatan Japah, misalnya, kandungan air dalam minyak masih tinggi, sehingga belum memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.

“Sebenarnya potensi produksinya melimpah, tetapi kadar airnya masih belum memenuhi standar," jelasnya.

Sementara itu, di Desa Botoreco, Kecamatan Kunduran, kualitas minyak dinilai sudah baik.

Namun, volume produksi belum mencapai syarat minimal pengiriman, 5.000 liter, sehingga distribusi belum dapat dilakukan.

Perkembangan positif juga terjadi di Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen. 

Setelah dilakukan perbaikan, salah satu sumur mampu menghasilkan sekitar dua bulan dalam waktu lima hari.

Capaian tersebut, menjadi sinyal awal meningkatnya produktivitas sumur di wilayah tersebut. (tos/lin)

Editor : Abdul Rochim
sumur minyak rakyat Blora Koperasi Blora Migas Energi BME Blora minyak Desa Plantungan pertamina